Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

OKEZONE STORY: Kepala Tertembus Tongkat Besi Seberat 7 Kg saat Menjadi Mandor, Nyawa Phineas Gage Selamat Secara Ajaib

Rufki Ade Vinanda , Jurnalis-Senin, 30 Oktober 2017 |08:01 WIB
OKEZONE STORY: Kepala Tertembus Tongkat Besi Seberat 7 Kg saat Menjadi Mandor, Nyawa Phineas Gage Selamat Secara Ajaib
Phineas Gage dan tengkorak kepalanya. (Foto: The Vintage News)
A
A
A

SEPANJANG sejarah medis tentunya terdapat banyak cerita fenomena yang terjadi pada manusia. Entah itu tentang kecelakaan atau kondisi medis yang anek yang sebagian besar sulit dijelaskan dengan logika. Salah satu kisah nyata tentang keajaiban medis terjadi pada 1848 yang notabene teknologi kesehatan masih belum semaju sekarang.

Kala itu, atau tepatnya pada 13 September 1848, sebuah ledakan besar terjadi di sebuah proyek pembangunan rel kereta api. Akibat ledakan tersebut, seorang mandor pembangunan bernama Phineas Gage mengalami kejadian mengerikan. Kepala Gage diketahui tertusuk tongkat besi hingga tembus.

Namun, secara ajaib, hal tersebut tidak berhasil mengakhiri hidup mandor beruntung itu. Insiden ledakan tersebut dikenal sebagai peristiwa "American Crowbar Case". Phineas P. Gage (1823-1860) adalah seorang mandor konstruksi jalur kereta api bekerja di Vermont, Amerika Serikat (AS).

Suatu hari, ketika ia bekerja, Gage membutuhkan besi tamping seberat 7 kilogram (kg) untuk keperluan pembangunan. Siapa sangka, tongkat besi itu justru membawa insiden mengerikan setelah bergesekan dengan batu. Tongkat besi yang bergesekan dengan batu itu memicu percikan api yang kemudian mengenai bubuk peledak.

Phineas Gage and rod that injured him

Phineas Gage berfoto dengan tongkat besi yang melukainya. (Foto: The Vintage News)

Tersengat api, bubuk tersebut pun langsung menghasilkan ledakan besar dan melemparkan tongkat-tongkat besi. Nahasnya salah satu besi menusuk tulang pipi kiri Gage hingga menembus bagian atas kepalanya. Saat mendapatkan musibah tersebut, Gage baru berusia 25 tahun.

Secara menakjubkan, kesadaran Gage tetap terjaga saat itu. Ia kemudian segera dibawa untuk mendapatkan perawatan medis. Tepat setelah ditangani, dokter menyampaikan sebuah pesan pada Gage."Saya rasa sudah cukup bagi Anda untuk menggeluti pekerjaan ini," ujar Dokter John Harlow yang meminta Gage untuk berhenti bekerja.

Dokter Harlow merawat Gage dengan hati-hati dan memastikan tidak ada potongan tengkorak kepala yang hancur tertinggal di otaknya. Sayangnya luka itu mengalami infeksi akibat Harlow yang menggunakan jarinya guna mengeluarkan fragmen-fragmen tengkorak dan membuat Gage mengalami keadaan setengah koma.

Akibat hal tersebut, keluarga Gage sudah tidak berharap banyak jika pria itu akan bertahan. Namun siapa sangka, ia justru sembuh secaea ajaib dan siap kembali ke rumahnya di New Hampshire. Kecelakaan itu telah menyebabkan Gage mengalami luka parah di wajah, kehilangan satu matanya, tulang tengkorak patah hingga menyebabkan kesehatan mental dan kecerdasan emosionalnya berubah.

Harlow menyusun catatan tentang perubahan mental Gage yang kerap gelisah, bertindak tidak sopan dan melontarkan kata kasar. Ia juga bersikap labil. Gage telah kehilangan kemampuan sosialnya dan membuat perilakunya berubah. Melakukan hal biasa menjadi hal sulit bagi Gage.

Baik teman dan rekan kerjanya mengenal Gage sebagai sosok yang terhormat dan pria baik. Tentu saja perubahan karakter tersebut membuat mereka seolah tidak mengenal Gage lagi. Perusahaan kereta api saat itu menolak untuk mempekerjakannya lagi karena kondisi mentalnya yang berbahaya.

Gage's skull and tamping iron in the Warren Anatomical Museum, 1870

Potret kerusakan tengkorak kepala Gage yang tertembus besi. (Foto: The Vintage News)

Akibatnya, Gage lalu mulai mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan kasar mulai dari bekerja di peternakan dan pelatih mengemudi di Chile. Kabarnya, pekerjaan ini memiliki efek menenangkan pada ketidakstabilan mentalnya. Dia mulai bertindak seperti dirinya yang dulu beberapa tahun setelah kecelakaan itu. Gage jauh lebih stabil dan mudah beradaptasi secara sosial.

Bagi para ilmuwan, kasus Gage adalah kasus pertama yang menunjukkan korelasi antara trauma otak dan perubahan kepribadian. Phineas Gage kemudian meninggal pada usia 35 tahun akibat kejang yang disebabkan oleh trauma tersebut. Ia telah dikenal sebagai sosok yang membantu pengembangan ilmu syaraf di bidang kesehatan dan membuka pintu baru untuk dunia medis.

Makam Gage sempat digali pada 1867 dan tengkoraknya serta besi yang melukainya diambil oleh Dokter Harlow guna penelitian lebih lanjut. Kini tengkorak Gage disimpan di Warren Anatomical Museum di Harvard University School of Medicine sebagai "peninggalan neurologi" berharga.

(Rufki Ade Vinanda)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement