nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE STORY: Misteri Ditemukannya 796 Mayat Bayi di Belakang Rumah Bersalin Bon Secours Irlandia

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Minggu 12 November 2017 08:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 12 18 1812565 okezone-story-misteri-ditemukannya-796-mayat-bayi-di-belakang-rumah-bersalin-bon-secours-irlandia-8Nt2EqulxW.jpg Foto: The Vintage News

SEBUAH tragedi menimpa Irlandia yang tak lekang oleh waktu. Sebanyak 796 mayat bayi dan balita ditemukan di belakang sebuah rumah untuk ibu dan bayi Bon Secours di Tuam, County Galway, Irlandia. Rumah bersalin tersebut khusus untuk ibu yang hamil di luar nikah dan beroperasi dari 1925-1961.

Penggalian dilakukan oleh Komisi Investigasi dan mengungkapkan jumlah manusia yang sangat signifikan ditemukan di belakang rumah bersalin tersebut. Meskipun pertanyaan tentang aktivitas Suster Bon Secours muncul pada akhir abad ke-20, tidak ada penyelidikan yang berlangsung sampai 2016-2017. "Anak-anak Tuam" bukanlah ungkapan yang disukai orang-orang Irlandia.

Selama rumah bersalin tersebut beroperasi di Irlandia, pada masa tersebut wanita dianggap memalukan jika hamil di luar nikah dan jika mereka tidak menemukan seorang suami, wanita-wanita ini tidak mendapat tempat di masyarakat. Oleh karena itu, Gereja Katolik membuka puluhan rumah bersalin untuk wanita yang belum menikah dan anak-anak. Bon Secour adalah salah satu institusi di mana para ibu dipisahkan dari anak-anak mereka dan harus tinggal di tempat lain di rumah, sementara para biarawati merawat bayi-bayi itu.

Hampir 15 tahun setelah Bon Secour tutup, dua anak laki-laki yang bermain di lokasi bekas rumah ibu dan anak menemukan sebuah lempengan beton. Di bawahnya mereka menemukan kerangka anak-anak. Seperti yang dikatakan anak laki-laki itu, lubang itu "terisi penuh." Namun pemerintah gagal menyelidiki kasus ini. Catherine Corless, seorang nenek, tukang kebun, dan sejarawan amatir dari Taum, tidak dapat beristirahat sampai dia menemukan kebenaran.

Catherine Corless membawa mengungkap kasus ini pada 2012. Dia ingat bagaimana beberapa dari anak-anak dari rumah bersalin tersebut pernah bersekolah yang sama dengannya di Taum, tapi keberadaan mereka seperti hantu. Seperti yang dia ingat dalam sebuah wawancara "Mereka dipisahkan dari kita semua... Kami tidak diizinkan untuk bermain dengan mereka. Mereka seperti spesies lain."

Corless memperoleh sampel acak dari 200 sertifikat kematian anak-anak di Bon Secours. Dia sangat terpukul saat mengetahui bahwa hanya ada dua anak dari rumah bersalin itu yang dimakamkan di pemakaman Taum. Sisanya tidak menerima penguburan yang layak.

Catherine Corless lalu menemukan bahwa menurut peta rumah, tempat tulang tersebut ditemukan dulunya adalah septic tank, yang diduga digunakan sebagai tempat pemakaman umum. Penyebab kematian karena influenza sampai tuberkulosis.

Setelah artikel Corless tentang temuannya di rumah sakit bersalin Tuam dipublikasikan di koran lokal, dia mulai menerima banyak telefon dari anak-anak yang selamat dan tertarik memberikan testimoni. Banyak dari mereka secara terbuka menceritakan kisah mereka dan itu bukan cerita yang menyenangkan. Anak-anak tidak pernah diberi kesempatan untuk memiliki masa kecil yang bahagia.

Sedangkan untuk anak-anak yang meninggal, yang berada di septic tank, penyelidikan yang dilakukan selama lima bulan antara November 2016 dan Februari 2017 menunjukkan bahwa ada hampir 800 mayat di sana, sekira umur 35 minggu hingga tiga tahun.

"Apakah para biarawati, yang bekerja dalam pelayanan negara, mengubur ratusan mayat anak di septic tani?" tanyanya dalam sebuah esai yang ia buat, dilansir dari The Vintage News, Minggu (12/11/2017).

Juga terungkap bahwa pada 1950-an, para biarawati menerima hingga Rp17 ribu untuk setiap ibu dan anak yang ingin tinggal di rumah bersalin “khusus” tersebut.

Tragisnya, hal tersebut tak terjadi hanya di rumah bersalin Bon Socours. Anak-anak yang yang lahir di luar nikah empat kali lebih mungkin meninggal daripada bayi lainnya. Ada beberapa alasan seperti kurangnya dana, staf yang tidak terlatih, perawatan yang tidak memadai, serta kurang cinta dan kehangatan. Bagian terburuk dari kisah tersebut adalah anggota gereja dan pejabat tertentu pasti tahu apa yang sedang terjadi.

Berkat Catherine Corless, semua ini mendapat perhatian publik di media dan banyak anak yang dibesarkan di rumah-rumah seperti Bon Secours mendapat kesempatan untuk menceritakan kisah mereka.

Ada beberapa kritik tentang cerita Bon Secours, mempertanyakan apakah mayat itu benar-benar korban dari Bon Secours atau sebenarnya berasal dari dampak musibah kelaparan pada abad ke-19 atau dekade-dekade lainnya, ketika angka kematian bayi sangat tinggi di Irlandia.

(pai)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini