Share

PM Lebanon Tunda Kepulangan untuk Kunjungi Dua Negara, Presiden Zimbabwe Ogah Lengser

Putri Ainur Islam, Okezone · Selasa 21 November 2017 07:11 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 21 18 1817580 pm-lebanon-tunda-kepulangan-untuk-kunjungi-dua-negara-presiden-zimbabwe-ogah-lengser-0q9TkpiDF5.jpg PM Lebanon Said al Hariri. (Foto: Reuters)

MENJADI seorang pemimpin bukanlah suatu hal yang mudah. Seorang pemimpin harus memajukan apa yang ia pimpin seperti daerah atau negara. Tak hanya itu, seorang pemimpin juga harus bisa mendengarkan suara rakyatnya dan bisa memutuskan apa yang terbaik buat rakyatnya.

Beberapa isu mengenai kepemimpiman yang menjadi perbincangan hangat masyarakat dunia tentunya terkait Perdana Menteri (PM) Lebanon Said al Hariri dan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe.

PM Said al Hariri secara mengejutkan menyampaikan sebuah pidato yang menyatakan bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai PM. Tak hanya mengejutkan, pengunduran diri tersebut dianggap beberapa kalangan terdapat keganjalan karena dilakukan di Arab Saudi.

Kebalikannya dari al Hariri, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe justru bertahan dan menolak untuk mundur dari posisinya sebagai presiden. Sempat dikudeta oleh pihak militer, Mugabe tetap bersikukuh akan tetap menjadi presiden, bahkan akan menjadi petahana saat Pilpres 2018.

Oleh karena itu, Okezone akan merangkum kembali peristiwa-peristiwa terkait dua pemimpin tersebut, Selasa (21/11/2017).

1. Drama Mugabe, Sempat Diberitakan Bersedia Mundur namun Menyampaikan Hal Berbeda saat Pidato

Pada Rabu 15 November, mobil lapis baja lalu lalang di jalanan utama ibu kota Zimbabwe, Harare, berselang 24 jam setelah panglima militer Jenderal Constantino Chiwenga mengancam akan melakukan intervensi untuk mengakhiri pembersihan yang dilakukan Zanu-PF terhadap sekutu-sekutunya.

Pihak tentara juga dikerahkan ke segala penjuru Harare dan mengambil alih kantor berita pemerintah. Mereka melakukan hal tersebut setelah setelah Zanu-PF menuduh pimpinan militer Zimbabwe melakukan pengkhianatan. Insiden ini memicu spekulasi akan adanya kudeta.

BACA JUGA: Tentara Ambil Alih Stasiun Penyiaran, Zimbabwe di Ambang Kudeta?

Tak hanya dari sisi militer, partai penguasa di Zimbabwe, Zanu-PF, akhirnya memutuskan untuk memberhentikan Mugabe sebagai pemimpin partai tersebut. Pada Minggu 19 November, para tokoh politik dan anggota partai Zanu-PF menggelar pertemuan untuk membahas wacana pemecatan terhadap pria berusia 93 tahun itu. Sebagai pengganti Mugabe, ZANU-PF menunjuk Emmerson Mnangagwa yang dipecat Mugabe beberapa waktu lalu.

Presiden Zimbabwe Ogah Lengser, PM Lebanon Tunda Kepulangan untuk Kunjungi Dua Negara

Rapat akbar tersebut juga menghasilkan suara bahwa sang Ibu Negara, Grace Mugabe, yang merupakan Ketua Liga Perempuan Partai ZANU-PF, juga dikeluarkan dari partai tersebut. Ketika keputusan pencopotan pasangan suami-istri itu diumumkan, suasana rapat akbar mendadak dipenuhi sorak sorai kemenangan.

BACA JUGA: Dipecat dari Partai, Presiden Zimbabwe Selangkah Lagi Lengser

Sebuah sumber mengatakan, militer Zimbabwe tengah mengerjakan sebuah pernyataan pengunduran diri dari pria yang menguasai Zimbabwe selama 37 tahun tersebut. Siaran negara Zimbabwe ZBC mengatakan bahwa Mugabe akan segera berbicara kepada khalayak negeri.

Namun sayang, lagi-lagi warga Zimbabwe yang tak tahan akan kepemimpinan Mugabe kembali kecewa. Dalam sebuah pidato yang disampaikan secara bertele-tele melalui stasiun TV negara, Mugabe mengatakan bahwa negara tersebut harus maju dan menyelesaikan perbedaan "antara generasi".

BACA JUGA: Presiden Mugabe Setujui Desakan terhadap Dirinya untuk Mengundurkan Diri

BACA JUGA: Dikabarkan Setuju untuk Lengser, Presiden Zimbabwe Bersikeras Tidak Akan Mundur

Mugabe juga mengatakan akan memimpin kongres partai Zanu-PF pada Desember di mana mereka akan "secara kolektif memulai proses untuk mengembalikan negara kembali normal". Diktator tersebut pun menyampaikan bahwa ia tidak akan mengundurkan diri sebagai Presiden Zimbabwe, meskipun ada harapan luas bahwa kepergiannya sudah dekat.

2. PM Lebanon Said al Hariri, Ditunggu Warganya agar Segera Pulang Malah Berkunjung ke Dua Negara

Setelah pidato pengunduran dirinya yang digelar di Arab Saudi, PM Lebanon Said al Hariri tidak kunjung kembali ke tanah airnya. Hal tersebut menimbulkan persepsi dari beberapa kalangan bahwa Hariri ditahan di Arab Saudi.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan bahwa Arab Saudi telah menahan Perdana Menteri SaId al Hariri. Ia juga menyebutkan bahwa tindakan Arab Saudi tersebut merupakan tindakan agresi terhadap Lebanon. Sebelumnya Presiden Aoun menyampaikan kepada utusan Arab Saudi bahwa ia meminta PM Hariri untuk kembali ke Lebanon dan menjelaskan alasannya untuk mengundurkan diri.

Presiden Aoun juga sudah menegaskan bahwa dia tidak akan menerima pengunduran diri tersebut sampai Hariri kembali ke Lebanon dan membicarakan masalah itu secara langsung kepadanya.

"Kita tidak bisa menunggu lebih lama dan kehilangan waktu. Urusan negara tidak bisa dihentikan," kata Presiden Aoun melalui akun Twitter-nya.

BACA JUGA: Presiden Lebanon: Sikap Arab Saudi yang Tak Bolehkan Hariri Pulang adalah Tindakan Agresi

Namun alih-alih pulang ke Lebanon, Hariri justru bertolak dari Riyadh, Arab Saudi, pada Jumat 10 November malam waktu setempat menuju Negeri Mode. Dari Paris, Hariri menelefon Presiden Lebanon Michael Aoun dan mengatakan akan pulang ke negaranya pada Rabu 22 November dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan.

โ€œLebanon sedang goyah sehingga sangat penting bagi Hariri untuk datang ke Paris agar kita bisa bekerja sama dengannya mencari jalan keluar terbaik,โ€ ujar seorang diplomat Prancis yang namanya dirahasiakan.

BACA JUGA: Pelukan Hangat Presiden Prancis Sambut Kedatangan PM Lebanon di Paris

Dari Paris, Said al Hariri berencana akan mengunjungi Mesir. Hal tersebut disampaikan oleh seorang pemimpin dalam Gerakan Masa Depan Hariri.

BACA JUGA: Setelah Kunjungi Prancis, PM Lebanon Akan Bertolak ke Mesir

(pai)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini