Dari ranah pendidikan formal, Emil mencatatkan berbagai capaian cemerlang. Pada tahun 2001, ketika berusia 17 tahun, Emil memperoleh gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology. Emil kemudian meneruskan pendidikan S1 di Universitas New South Wales, Australia. Sedangkan gelar S2 dan S3 Emil didapat setelah dirinya menjalani pendidikan di Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.
Sebelum terjun ke dunia politik, Emil dikenal sebagai seorang profesional muda yang sukses. Di tahun 2001 hingga 2003, Emil menjadi World Bank Officer di Jakarta dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat dirinya didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President (VP) di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).
Meninggalkan Gaji Fantastis Demi Pengabdian di Trenggalek
Maka, ketika dirinya memutuskan terjun ke dunia politik untuk mengabdi di Trenggalek, sejumlah pihak mempertanyakan keputusannya. Bagaimana tidak, Emil kala itu harus meninggalkan gaji lebih dari Rp 100 juta sebagai seorang direktur BUMN untuk gaji Rp 6 juta sebagai bupati.
"Iya, sekitar segitu (Rp 6 juta). Ya itu (gaji VP BUMN) lebih besar sepuluh kali lipat mungkin ya," kata Emil dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi swasta.
"Sekitar segitulah (Rp 100 juta). Tapi tidak perlu dibahas terlalu jauhlah," sambung Emil.
Ketika langkahnya dipertanyakan oleh orang-orang terdekatnya, pada saat yang sama, langkah Emil pada Pilkada Trenggalek tahun 2015 pun dipertanyakan. Bahkan, banyak pihak yang meragukan kapabilitas Emil sebagai pemimpin daerah kala itu. Namun, Emil dan Nur Arifin tetap berhasil memenangi pilkada dengan perolehan suara sebanyak 292.248 atau 76,28 persen.
“Waktu pilkada saya dianggap orang luar, identik dengan orang kota, orang urban, sehingga banyak yang khawatir saya akan menghapus nilai-nilai masyarakat yang baik di Trenggalek. Karena itu, ketika saya datang, Trenggalek saya ibaratkan kertas putih. Artinya, masyarakat masih punya nilai-nilai luhur sebagai aset bagi kemajuan,” ungkap Emil mengisahkan pengalamannya bertarung di pilkada pertamanya.
Kualitas Kepemimpinan