Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pilu Kakek Radi yang Lumpuh Tak Berdaya di Gubuk Reyot

Hambali , Jurnalis-Jum'at, 24 November 2017 |16:31 WIB
Kisah Pilu Kakek Radi yang Lumpuh Tak Berdaya di Gubuk Reyot
Radi (97) bersama istrinya Tini (77) di rumah reot Pondok Pucung, Tangerang Selatan (Hambali/Okezone)
A
A
A

TANGERANG SELATAN - Nasib memilukan dialami Radi (97). Setelah kakinya lumpuh sejak 8 bulan lalu, kakek itu hanya bisa terbaring di gubuk reotnya di Jalan Kampung Rawa Barat, RT02 RW16, Nomor 22, Pondok Pucung, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel).

Di bangunan kayu berukuran 4 meter persegi itu, kakek Radi tinggal bersama istrinya Tini yang juga tak muda lagi, berusia 77 tahun. Meski sama-sama berusia sepuh, istrinya tetap tak menyerah mencari nafkah dengan berdagang kopi dan mi rebus, untuk biaya hidup bersama suami.

“Dulu bapak kerjanya tukang sampah, terus setelah lumpuh ya udah enggak bisa ngapa-ngapain. Jadi terpaksa nenek yang jualan kopi sama mi," tutur Tini saat ditemui di gubuknya, Jumat (24/11/2017).

Tini berkisah awal mula petaka menimpa suaminya. "Dulu awalnya jatuh ke got, terus habis itu kakinya nggak bisa jalan, ngerasa sakit. Lama-lama lumpuh, kejadiannya sudah 8 bulan lalu,” ujarnya.

“Sekarang kalau buang air ya didalam kamar aja pakai ember, nanti dibersihin," tutur Tini.

Kakek Radi sebelumnya bekerja sebagai tukang pemungut sampah di lingkungan RT 02, dengan upah hanya Rp100 ribu tiap bulan.

Radi dan Tini tak dikaruniai keturunan sejak menikah pada 1970-an. Kini mereka telah memiliki 3 orang cucu, hasil perkawinan dari anak angkat perempuannya yang bernama Ratih (44).

"Tinggal di sini cuma berdua, ada anak angkat perempuan tapi sekarang lagi pergi ke Lampung sama cucu,” sebut Tini.

Dalam ruangan yang ditempati kakek Radi, bau tak sedap begitu terasa. Aroma bekas tinja, pakaian kotor, bercampur baur menjadi satu. Apalagi di bagian depan gubuknya, ada kandang ayam yang juga menambah udara di kamar makin menyengat.

Dari pengakuan nenek Tini, belum ada satupun pihak terkait yang datang memberi bantuan pengobatan. Padahal, pengurus lingkungan di RT 02 dan RW 16 sudah mengetahui penderitaan yang dialami keluarganya.

"Enggak pernah ada yang datang, semua disini sudah pada tahu, tapi sampai sekarang ya begini saja. Mau berobat kan bayar, naik ojek ke rumah sakit kan bayar. Sekarang pasrah aja, semoga ada yang dengar biar pemerintah bisa bantu," harapnya lagi.

(Salman Mardira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement