Isu Rohingya masih sensitif sehingga beberapa penasihat Paus Fransiskus mengingatkan agar pria bernama asli Jorge Mario Bergoglio itu tidak menggunakan kata ‘Rohingya’ selama kunjungan. Sebab, bisa saja perkataan Sri Paus itu menjadi pemicu kekerasan terhadap umat Kristiani yang juga minoritas di Myanmar.
Banyak warga Myanmar yang menolak menyebut etnis minoritas tersebut sebagai ‘Rohingya’. Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, juga tidak mau melabeli mereka sebagai minoritas, tetapi ‘minoritas Muslim yang tinggal di Rakhine State’.
Hal tersebut dapat menjadi dilema tersendiri bagi Paus Fransiskus. Sebab, pria berusia 80 tahun itu sangat ingin mengangkat isu Rohingya namun di sisi lain ucapannya dapat membahayakan sekira 700 ribu penganut Katolik Roma di Myanmar. Salah-salah, ratusan ribu orang itu bisa bernasib sama dengan etnis Rohingya.
Selain Myanmar, Paus Fransiskus juga akan berkunjung ke Bangladesh selama kunjungan dari 26 November hingga 2 Desember. Ia diperkirakan akan berjumpa dengan para pengungsi Rohingya yang berada di Cox’s Bazaar, wilayah perbatasan Bangladesh dengan Myanmar yang menampung para pengungsi.
Otoritas Myanmar sudah mengerahkan polisi antihuru-hara dalam jumlah besar untuk mengamankan kedatangan Paus Fransiskus. Menurut juru bicara Keuskupan Agung Myanmar, Mariano Soe Naing, sekira 150 ribu orang juga sudah mendaftar untuk mengikuti misa yang akan dipimpin oleh Paus Fransiskus di Yangon.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.