Image

Akui Yerusalem Ibu Kota Israel, JK Sindir Politik Luar Negeri AS

Reni Lestari, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 13:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 07 18 1826634 akui-yerusalem-ibu-kota-israel-jk-sindir-politik-luar-negeri-as-7Mm0UXQ2V2.jpg Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (Foto: Dok. Okezone)

SERPONG - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyindir politik luar negeri Amerika Serikat (AS) yang seringkali berdampak buruk bagi kondisi suatu negara. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan pidato kunci pada Bali Democracy Forum (BDF) ke-10 yang digelar di ICE BSD City, Tangerang, Banten.

Sindiran itu mengacu pada keputusan Presiden AS Donald Trump yang telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Namanya AS, ya begitu, semua memutirbalikkan keadaan," kata JK ditemui usai membuka forum tersebut, Kamis (7/12/2017).

Dalam pidato JK mengatakan, demokrasi sesungguhnya bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai kemakmuran bangsa. Sehingga praktik demokrasi di suatu negara tak bisa serta merta diterapkan sama persis di negara lain dengan kultur yang berbeda.

"Demokrasi tidak bisa dijadikan copy-paste, harus disesuaikan dengan tradisi. Prinsip pokok demokrasi, rakyat yang menentukan, yang paling penting dilaksanakan. Karena bagi kami demokrasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Banyak bangsa besar yang seakan membawa demokrasi sebagai agama, sehingga demokrasi menjadi tujuan sehingga kehidupan bangsa menjadi jauh lebih buruk," jelas dia.

Tindakan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel bisa dianggap sebagai penjiplakan praktik demokrasi yang tidak mempertimbangkan unsur kultur dan budaya, serta potensi konflik.

"Iya, karena (misalnya) AS menyerang Irak tanpa alasan yang jelas, akibatnya Irak hancur lebur, jauh lebih makmur waktu Saddam Hussein (memimpin). Dengan kritikan juga kepada Saddam cara memerintah, tapi rakyatnya lebih makmur dulu daripada sekarang," ujar JK.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah AS telah mengumumkan untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Langkah itu dinilai tidak saja membahayakan proses perdamaian tetapi juga perdamaian dan stabilitas terutama di kawasan Timur Tengah.

Negeri Paman Sam sebelumnya selalu mempertahankan status quo dari Yerusalem dan berkeras bahwa status Yerusalem harus ditentukan melalui dialog, bukan pengakuan sepihak. Akan tetapi, sikap tersebut dilanggar secara sepihak lewat pengakuan terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini