MAKSUD hati menciptakan dinamit untuk kebaikan, apa daya ternyata alat tersebut disalahgunakan. Alfred Nobel menemukan bahan peledak di tengah masa keemasan penambangan permata pada 1867. Penemuan itu mampu mereduksi biaya penggalian terowongan dan kerja konstruksi lainnya.
Dilansir dari Nobel Prize, pasar untuk dinamit dan detonator bernama blasting cap itu berkembang pesat. Pria berdarah Swedia itu juga mampu membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi seorang pengusaha dan pebisnis jempolan.
Alfred Bernhard Nobel lahir di Stockholm, Swedia, pada 1833. Empat tahun kemudian keluarganya bermigrasi ke Rusia. Ayahnya, Immanuel Nobel, berhasil mengelola sebuah pabrik di Saint Petersburg yang memproduksi bahan peledak dan perlengkapan militer lainnya.
Alfred Nobel mendapat pendidikan yang baik di Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat (AS) sehingga mampu menjadi seorang ahli kimia yang brilian. Ketika bisnis ayahnya merosot usai berakhirnya Perang Krimea, Alfred kembali ke Swedia dan membangun laboratorium uji coba bahan peledak.
Pada 1863, Alfred Nobel mampu menciptakan cara mengontrol ledakan nitrogliserin atau cairan menguap yang enggan digunakan karena terlalu berbahaya. Dua tahun kemudian, ia menemukan blasting cap, detonator yang digunakan untuk meledakkan bahan peledak tingkat dua seperti TNT, dinamit, atau bom plastik.
Sebelum penemuan tersebut, bahan peledak yang lazim digunakan adalah bubuk mesiu. Meski demikian, nitrogliserin tetap berbahaya. Pada 1864, pabrik penghasil nitrogliserin milik Alfred meledak dan menewaskan adiknya serta beberapa orang.