Share

Presiden Filipina: Aktivis HAM Cuma Sekumpulan Orang Berisik

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Sabtu 27 Januari 2018 00:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 26 18 1850894 presiden-filipina-aktivis-ham-cuma-sekumpulan-orang-berisik-tI5Od2RJ0s.jpg Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: Lean Daval Junior/Reuters)

NEW DELHI – Presiden Filipina, Rodrigo Roa Duterte, mengatakan kepada pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, tidak perlu risau terhadap para aktivis hak asasi manusia (HAM). Sebab, menurut mantan Wali Kota Davao City itu para aktivis HAM tidak lebih dari sekumpulan orang yang berisik.

Pernyataan tersebut diungkapkan Presiden Rodrigo Duterte saat berpidato dalam Forum Bisnis India-Filipina di New Delhi pada Jumat 26 Januari siang waktu setempat. Aung San Suu Kyi dan Rodrigo Duterte tengah berada di India untuk mengikuti peringatan 25 tahun kerjasama ASEAN-India.

“Kita berbicara mengenai negara Anda, kepentingan negara kita, dan saya bilang, ‘Jangan hiraukan para (aktivis) HAM,’ karena mereka hanya sesungguhnya hanya sekumpulan orang berisik,” ujar Rodrigo Duterte, mengutip dari Reuters, Sabtu (27/1/2018).

Sebagaimana diketahui, Aung San Suu Kyi menjadi sasaran kritik dari aktivis HAM karena dinilai lambat menangani krisis di Rakhine State yang menimpa etnis minoritas Rohingya. Kelompok pembela HAM bahkan mendesak agar gelar peraih Nobel Perdamaian milik Suu Kyi dicabut.

“Saya kasihan padanya karena seperti terperangkap di tengah-tengah di mana dirinya adalah pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian tetapi justru dikritik karena ada kekacauan seperti itu,” imbuh Presiden Rodrigo Duterte.

Mantan pengacara itu bukannya bebas dari kritik para pembela HAM. Rodrigo Duterte juga menjadi sasaran kritik akibat caranya dalam menangani peredaran narkoba. Sebagaimana diketahui, sedikitnya 3.900 orang tersangka narkoba tewas sejak pria berjuluk Digong itu naik jabatan pada Juni 2016.

Rodrigo Duterte dikritik karena memerintahkan polisi agar tidak ragu-ragu menembak mati tersangka pengedar dan pengguna yang mencoba melawan saat ditangkap. Aktivis HAM menilai polisi bertindak sewenang-wenang dengan mengeksekusi mati tanpa melalui proses hukum yang memadai.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini