Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Persekongkolan AS-Inggris Rebut Tanah Louisiana dari Prancis

Wikanto Arungbudoyo , Jurnalis-Minggu, 28 Januari 2018 |08:01 WIB
Kisah Persekongkolan AS-Inggris Rebut Tanah Louisiana dari Prancis
Louisiana (cokelat) berhasil direbut AS dari tangan Prancis tanpa melalui pertumpahan darah (Foto: Foreign Policy)
A
A
A

TANPA melewati proses pertumpahan darah, yang jamak terjadi saat itu, Amerika Serikat (AS) berhasil mengambil wilayah yang kini dikenal sebagai Negara Bagian Louisiana dari tangan Prancis. Keberhasilan AS tidak lepas dari keahlian dalam diplomasi serta sedikit tipuan.

Wilayah yang membentang dari Sungai Mississippi hingga Pegunungan Rocky itu menjadi satu dari 15 negara bagian awal yang membentuk AS modern. Negeri Paman Sam harus berterima kasih kepada aksi cepat Presiden Thomas Jefferson dan Duta Besar untuk Prancis, Robert Livingston, serta James Monroe.

Louisiana sejatinya ditemukan oleh Kerajaan Spanyol. Kolonisasi tersebut kemudian dikenal dengan nama saat ini sebagai Florida, Texas, New Mexico, Arizona, dan California. Lalu Prancis datang dan mulai melakukan eskplorasi besar-besaran.

Wilayah Louisiana sempat dikembalikan ke tangan Spanyol pada 1762. Ketika memasuki abad ke-19, Louisiana kembali beralih kepemilikan ke Prancis.

Pada awal 1800, Louisiana dihuni oleh sekira 60 ribu orang penduduk, beberapa di antaranya adalah keturunan warga biasa dan aristokrat Prancis yang hidup harmonis. Hidup sebaliknya terjadi di wilayah timur di mana sekira 300 ribu warga AS selalu ingin berdagang dan menghasilkan sesuatu. Orang-orang ini tinggal di sisi timur Sungai Mississippi dan menggantungkan hidup pada ekspor barang lewat Kota Pelabuhan New Orleans.

Mereka menghasilkan produk berupa tembakau, tepung, whiskey, keju, dan mentega. New Orleans yang sangat penting itu berada di bawah pendudukan Spanyol. Pemerintah AS dan Spanyol memiliki kesepakatan dagang yang menguntungkan. Tiba-tiba terjadi lah perubahan besar.

Melansir dari The Vintage News, Minggu (28/1/2018), Presiden Thomas Jefferson menerima informasi dari mata-mata Inggris bahwa Napoleon, pemimpin pemerintahan Revolusi Prancis yang haus akan perang, berhasil mengambil alih Louisiana dan New Orleans lewat perjanjian rahasia dengan Spanyol.

Jefferson lantas bertindak cepat dengan memerintahkan Robert Livingston untuk memulai negosiasi pembebasan Kota Pelabuhan New Orleans. Napoleon dan Menteri Urusan Luar Negeri, Talleyrand, kemudian mengungkapkan kesepakatan rahasia yang terjalin dengan Spanyol.

Napoleon pun mendeklarasikan rencana untuk membuat Prancis kembali sebagai koloni besar dan berpengaruh. Livingston menyurati Jefferson dan menyarankannya untuk bersiap akan terjadinya perang. Orang-orang Amerika yang marah karena tidak bisa mengekspor barang, sudah siap untuk bertempur. Akan tetapi, Thomas Jefferson punya ide berbeda yang brilian.

Jefferson sadar bahwa dalam kesepakatan antara Napoleon dengan Spanyol ada klausul bahwa Louisiana tidak boleh dijual atau diserahkan kepada AS. Ia kemudian memutuskan untuk mencoba membeli New Orleans dan Florida dengan cara apa pun. Jefferson mengutus James Monroe untuk membantu Livingston di Paris.

Di waktu yang sama, Napoleon memiliki rencana sendiri. Pria bertubuh pendek itu berencana menjual kembali Louisiana tanpa sepengetahuan Spanyol, bahkan tanpa memberi tahu Talleyrand. Napoleon beralasan, pihaknya kekurangan dana untuk berperang melawan Inggris.

Demi melancarkan pengambilan keputusan, Napoleon melihat bahwa Inggris memiliki armada yang cukup besar tengah bersandar di Teluk Meksiko untuk menaklukkan Louisiana kapan pun perang dimulai. Bagi Napoleon, Louisiana sudah hampir akan hilang.

James Monroe tiba di Paris dan pada saat itu kedua belah pihak sudah saling tahu akan rencana masing-masing. Menteri Keuangan Prancis, Barbe-Marbois, dan Livingston saling bertukar tawaran dan akhirnya muncul penawaran terhadap Louisiana. Tak mau buang waktu, Livingston langsung mengirim surat ke Jefferson.

Tanpa bertanya sama sekali, AS menerima tawaran penjualan tersebut. Ternyata dalam klausul disebutkan bahwa tawaran itu mencakup tidak hanya New Orleans dan Florida, tetapi juga Louisiana. Namun, harga jualnya cukup tinggi yang membuat AS sempat ragu. Waktu pun terus bergulir.

Livingston dan Monroe sadar bahwa butuh 45 hari agar surat mereka bisa sampai ke tangan Presiden Thomas Jefferson. Keputusan harus diambil dengan cepat. Setelah beberapa kali rapat, mereka berhasil menurunkan harga hingga USD15 juta.

Sadar bahwa itu merupakan tawaran terbaik dan tidak bisa lama menunggu, keduanya menerima kesepakatan tersebut tanpa persetujuan Jefferson. Livingston dan Monroe yakin warga AS serta Presiden Thomas Jefferson akan setuju dengan tindakan mereka.

Pada 2 Mei 1803, kesepakatan tersebut terjalin. Transaksi jual beli terjadi secara resmi pada 22 Mei 1803, empat hari setelah perang antara Inggris dan Prancis dimulai.

Ketika berita itu sampai ke daratan Amerika, warga bersorak-sorai. Namun, isu terbesar (bahkan bagi Jefferson sendiri) adalah tindakan Livingston dan Monroe berlawanan dengan konstitusi. Senat pun pada akhirnya sepakat dan mendukung pembelian tanah tersebut.

Karena AS tidak memiliki dana cukup untuk membeli tanah itu sendirian, kemudian dibentuk surat obligasi dan berharap akan ada yang membelinya. Obligasi tanah itu diambil oleh investor Inggris, Bank Baring, dan di situ lah ironi terjadi. Inggris membiayai Napoleon untuk perang terhadap Inggris.

(Wikanto Arungbudoyo)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement