Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Temui JK, MILF Janji Bantu Bebaskan WNI dari Abu Sayyaf

Fahreza Rizky , Jurnalis-Kamis, 01 Februari 2018 |18:46 WIB
Temui JK, MILF Janji Bantu Bebaskan WNI dari Abu Sayyaf
Wapres RI Jusuf Kalla didampingi Wamenlu AM Fachir menerima delegasi Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Kamis 1 Februari 2018. (Foto: Fahreza Rizky/Okezone)
A
A
A

JAKARTA -- Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), menerima 11 orang delegasi Front Pembebasan Islam Moro (MILF) hari ini. Dalam kesempatan itu, milisi Muslim tersebut hendak belajar proses perdamaian dari Kalla.

Selain itu, delegasi MILF juga berkomitmen membantu pemerintah Indonesia untuk membebaskan warga negara Indonesia (WNI) yang disandera militan Abu Sayyaf di wilayah Filipina Selatan.

"Kami tahu bahwa ada beberapa orang Indonesia yang masih disandera di Filipina Selatan dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan mereka," kata Ketua MILF, Al Haj Murad Ebrahim usai bertemu Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (1/2/2018).

Kendati tak membangun kontak dengan Abu Sayyaf, Murad mengaku tetap berkomitmen untuk membantu pemerintah Indonesia membebaskan WNI oleh kelompok bersenjata tersebut di Filipina Selatan.

"Tidak ada kontak, tapi kami berusaha memonitor ini, berusaha memindahkan dari satu pulau ke pulau lain," jelas dia.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan militan Abu Sayyaf bagaikan Robin Hood. Sebab, kelompok bersenjata itu menyandera orang kemudian meminta uang tebusan. Lalu, uang tebusan tersebut dibagikan ke orang miskin.

"Sandera ini di tangan Abu Sayyaf atau faksi lebih kecil lagi. Seperti di Marawi kemarin, seperti di selatan lagi. Kalau itu memang kerjanya sandera, karena itu Robin Hood. Dia menyandera, orang bayar. Terus dia bagi ke orang miskin. Jadi itu tradisi lama," ujar Kalla.

Selain berbicara soal sandera, MILF juga berdiskusi dengan Kalla perihal perdamaian di Filipina. MILF menilai Wakil Kepala Negara Indonesia memiliki pengalaman yang sangat baik dalam mewujudkan perdamaian di Aceh dan Papua. Pasalnya, konflik bersenjata di Filipina juga hampir serupa dengan di Indonesia.

"Kami datang ke Indonesia untuk belajar dari pengalaman pemerintah Indonesia khususnya menangani di Aceh, yang mengalami situasi yang sama," jelas Murad.

Dia menambahkan, Indonesia dinilai sukses dalam menciptakan perdamaian. Karenanya, sebelum menemui Kalla, delegasi MILF juga menyambangi Aceh dan bertemu Wali Nangroe Aceh, Tengku Malik Mahmud Al-Haythar untuk belajar hal serupa tentang perdamaian.

"Kami punya hubungan yang baik dengan pemerintah Indonesia yang membantu kami dalam banyak hal terkait proses perdamaian ini," imbuh Murad.

Dalam pertemuan dengan Wakil Presiden, 11 orang delegasi MILF didampingi oleh Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir, KBRI di Flipina dan United Nations Development Programme (UNDP).

Sekadar informasi, Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang juga dikenal dengan nama Jabhat Tahrir Moro al-Islamiyyah merupakan kelompok militan yang dulunya memberontak terhadap pemerintah Filipina karena menginginkan wilayah otonomi untuk warga Moro di Mindanao.

Namun, setelah kesepakatan damai, kelompok tersebut melucuti senjatanya dan acap kali membantu pemerintah untuk bernegosiasi dengan kelompok militan lainnya untuk mengupayakan perdamaian.

(Wikanto Arungbudoyo)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement