nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terapung 20 Jam di Perairan Filipina, WNI Sandera Abu Sayyaf Akhirnya Kembali ke Keluarga

ABC News, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 08:49 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 12 18 2042370 usai-terapung-20-jam-di-perairan-filipina-wni-sandera-abu-sayyaf-akhirnya-kembali-ke-keluarga-08ezeRe3SB.jpg WNI Korban Abu Sayyaf (ABC)

JAKARTA - Heri Ardiansyah kembali bertemu keluarganya, Kamis (11/4/2019), di tanah air setelah menjadi sandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina sejak akhir 2018 lalu. Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) ikan ini berhasil selamat setelah 20 jam mengapung di perairan Pulau Simisa, Filipina Selatan.

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemenlu) pada hari Kamis (11/4/2019) secara resmi mengembalikan dua WNI, korban sandera kelompok bersenjata di Filipina Selatan, kepada keluarga.

 Baca juga: Tertembak dalam Kontak Senjata, Sandera Abu Sayyaf Asal Malaysia Kritis

Heri (19), WNI yang berhasil selamat ketika terjadi pembebasan sandera, disambut langsung oleh keluarganya di Jakarta.

Sementara satu WNI lainnya, Hariadin (45), diserahkan secara simbolis kepada keluarga yang turut hadir dalam acara penyerahan tersebut.

"Saya atas nama Pemerintah Republik Indonesia secara resmi ingin menyerah terimakan saudara kita, Heri Ardiansyah, kepada keluarga."

 Baca juga: Seorang WNI Sandera Abu Sayyaf Meninggal Dunia dalam Proses Pembebasan

"Dan secara simbolis saya juga menyerahkan jenazah saudara kita, Hariadin, kepada pihak keluarga juga," ujar Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi di Gedung Kemenlu, Jakarta Pusat.

Hariadin meninggal dunia saat berusaha mengarungi perairan dari Pulau Simisa ke Pulau Bangalao di Filipina Selatan pada 4 April lalu. Ia diduga meninggal karena kelelahan.

 https://www.abc.net.au/cm/rimage/10995382-3x2-large.jpg?v=2

Sementara Heri berhasil bertahan hidup setelah mengapung selama 20 jam sebelum ditemukan pihak berwenang Filipina pada keesokan harinya.

"Atas nama Pemerintah Indonesia, saya ingin mengucapkan duka cita kami yang sangat mendalam kepada seluruh keluarga."

 Baca juga: Presiden Duterte Minta Semua Kontrak Filipina dengan China Ditinjau Ulang

"Dan saya berkeyakinan bahwa sebagai seorang Muslim, almarhum meninggal sebagai mujahid, karena almarhum disandera saat berjihad mencari nafkah untuk keluarga yang dicintainya.," tutur Retno tentang Hariadin, yang meninggalkan seorang istri dan 3 anak, dengan terbata.

Baik Hariadin maupun Heri adalah ABK kapal ikan SN259/4/AF berbendera Malaysia yang diculik kelompok bersenjata Filipina pada saat bekerja di perairan Kinabatangan, Sandakan, Malaysia, Desember 2018 lalu.

Keduanya adalah warga Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Atas kepergian Hariadin, pihak keluarga yang turut datang ke Jakarta, mengaku ikhlas.

"Saya beserta istri dan anak almarhum sudah mengikhlaskan adik tercinta kami," kata Saharudin, kakak kandung almarhum Hariadin (11/4/2019).

Proses pembebasan Heri dan Hariadin menandai pembebasan keseluruhan 36 WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan sejak tahun 2016.

Meski demikian, Pemerintah Indonesia tetap memberi peringatan perjalanan ke wilayah konflik di Filipina itu.

"Meskipun kita sudah tidak memiliki WNI yang disandera saat ini di Filipina Selatan, tetapi saya tetap mengingatkan bahwa kegiatan kelompok bersenjata di Filipina Selatan masih terus ada," sebut Menlu Retno.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini