Duterte sering dikritik karena kecenderungannya bersikap otoritarian dengan retorika keras dan kasar terhadap para lawan politiknya. Dia juga disorot terkait tindakan tegasnya terhadap obat-obatan terlarang yang menjadi ciri khasnya sejak menjadi presiden.
Komentar Duterte ini disampaikan hanya beberapa hari menjelang peringatan 32 tahun Revolusi Kekuatan Rakyat Edsa yang jatuh pada 22 sampai 25 Februari. Revolusi itulah yang pada akahirnya berhasil menumbangkan pemerintahan diktator Ferdinand Marcos pada 1986.
BACA JUGA: Ribuan Warga Filipina Turun Ke Jalan Berdemo Menentang Duterte
Namun, Duterte secara terbuka telah menyatakan bahwa dia tidak berniat menjadi diktator dan meminta masyarakat untuk menghindari potensi terbentuknya kediktatoran. Dia bahkan memerintahkan militer dan polisi untuk menembaknya jika dia memperpanjang masa jabatannya sebagai presiden, yang akan berakhir pada 2022.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.