Perempuan dari Berbagai Negara Mengaku Dilecehkan Saat Beribadah Haji

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 26 Februari 2018 12:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 26 18 1864754 perempuan-dari-berbagai-negara-mengaku-dilecehkan-saat-beribadah-haji-1ikn02LxZY.jpg Jamaah haji perempuan berdesakan di sekitar Ka'bah. (Foto: AFP)

Perempuan Indonesia juga dilecehkanBanyak perempuan dari berbagai negara membagikan pengalaman mereka diraba dan disentuh secara tidak pantas melalui media sosial Twitter, selama melakukan perjalanan haji, termasuk pemilik akun Anggi Angguni dari Indonesia.Anggi menceritakan pelecehan seksual yang dialami dirinya, ibu dan saudara perempuannya ketika menjalankan ibadah haji pada 2010 lalu."Saya mendengar mengenai #MosqueMeToo. Itu menimbulkan ingatan yang mengerikan selama melakukan ibadah haji 2010. Orang berpikir Makkah merupakan tempat tersuci bagi umat Muslim jadi tidak ada seorangpun akan melakukan sesuatu yang buruk. Benar-benar salah.""Suatu hari, tiba-tiba seseorang menyentuh payudara saya dan meremasnya. Saya terkejut. Saya melihat seorang pria di belakang saya dan dia berpura-pura tidak melakukan apapun dan pergi. Saya sangat terkejut yang dapat saya lakukan adalah menangis. Itu terjadi di Makkah" tulis Anggi.Para pendukung #MosqueMeToo mengatakan bahkan di tempat suci, di mana mereka menutup hampir seluruh tubuhnya dan beribadah, mereka dapat dilecehkan.Banyak perempuan di negara-negara yang mewajibkan penggunaan hijab bagi perempuan seperti Iran, Arab Saudi, Mesir dan Afghanistan masih menghadapi pelecehan seksual di jalanan, meskipun telah menggunakan pakaian yang menutupi tubuh mereka.

Sri Lestari - wartawan BBC IndonesiaSetiap tahun sekitar dua juta orang dari berbagai negara menjalankan ibadah haji, sehingga selama di sana tak dapat menghindar dari kerumunan orang, ketika berada di masjid, di tempat wisata di sekitar Mekkah dan Madinah ataupun di jalan.Ketika saya menjalankan ibadah haji pada 2011 lalu, sejak tiba di tanah suci petugas mengingatkan kami jemaah perempuan untuk tidak bepergian sendirian, karena rawan terjadi pelecehan dan bahkan 'penculikan'.Bahkan untuk ke masjid yang hanya berjarak ratusan meter pun, perempuan disarankan lebih baik pergi bersama-sama dengan jemaah yang lainnya. Pesan itu membuat saya lebih waspada terutama ketika sedang melakukan tawaf di pagi hari bersama dengan beberapa rekan perempuan, terutama di waktu yang dianggap baik untuk menjalankan ibadah.Di Masjidil Haram, ketika melakukan tawaf dan sa'i (berjalan kaki atau berlari kecil antara Bukit Shafa ke Bukit Marwah selama tujuh kali) tidak ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan, juga di beberapa tempat yang digunakan untuk salat di kompleks masjid tersebut. Sementara di Masjid Nabawi di Madinah tempat beribadah laki-laki dan perempuan dipisahkan.Namun pelecehan tak hanya dapat terjadi di dalam masjid, dalam perjalanan menuju masjid atau sebaliknya jemaah perempuan rentan mengalami pelecehan.Saya pernah menyaksikan penjual makanan dan souvenir berupaya menarik tangan jemaah perempuan sambil menawarkan dagangan mereka. Dan perempuan itu menghindar dan menegurnya.Kerumunan jemaah dalam jumlah besar dalam waktu bersamaan juga terjadi ketika bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina ketika menjalankan lempar jumroh.Selama di Mina, sambil menanti waktu melempar jumroh, saya bersama seorang teman perempuan pernah mencoba jalan-jalan ke luar kompleks tenda tempat kami menginap, namun baru berjalan sekitar 200 meter kami memutuskan kembali, karena merasa tidak aman.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini