nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Warga Malaysia Antusias Saksikan Hukuman Cambuk di Aceh

Khalis Surry, Jurnalis · Selasa 27 Februari 2018 16:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 27 340 1865465 warga-malaysia-antusias-saksikan-hukuman-cambuk-di-aceh-wJ2S2brhhb.jpg Wisatawan Malaysia saksikan hukuman cambuk di Malaysia (Foto: Khalis Surry/Okezone)

BANDA ACEH - Pelaksanaan eksekusi cambuk dilakukan di depan umum kembali dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh. Masyarakat setempat juga terlihat beramai-ramai menyaksikan pelaksanaan hukum cambuk. Tak hanya warga Aceh, wisatawan dari Malaysia juga ikut menonton dan mengabadikan hukuman cambuk yang termasuk dalam bagian penegakan syariat islam di Aceh.

Seorang wisatawan dari Malaysia, Muhammad Syukri mengatakan, mereka ke Aceh untuk berliburan. Kedatangan mereka ke pelaksanaan eksekusi cambuk tersebut dibawa oleh salah satu agen travel yang ada di Banda Aceh ketika mengetahui hukuman cambuk.

"Kami berwisata ke Aceh karena ingn melihat bekas tsunami Aceh. Kebetulan saja dibawa kemari karena katanya ada proses pelaksanaan eksekusi cambuk," kata Syukri kepada Okezone.

Pemerintah Kota Banda Aceh kembali melakukan eksekusi hukuman cambuk terhadap para pelanggar syariat islam di halaman Masjid Babussalam, Lampaseh Aceh, Kota Banda Aceh, Selasa (27/2/2018). Kali ini, hakim Mahkamah Syariah Kota Banda Aceh memutuskan lima orang terbukti melanggar Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Selain mengeksekusi sepasang suami istri non-muslim yang terbukit berjudi di tempat hiburan Funland Banda Aceh, berserta seorang pengelola lapak, Mahkamah Syariah Kota Banda Aceh juga memutuskan sepasang kakek dan nenek yang bukan mahramnya terbukti melakukan ikhtilath atau bercumbu, bermesraan.

(Baca Juga: Terbukti Bercumbu, Sepasang Kakek-Nenek Dicambuk)

Terpidana ikhtilath tersebut bernama Muzakkir dan Cut Hasmidar. Jaksa memvonis mereka dengan Pasal 25 Ayat 1 tentang perbuatan ikhtilath, dan mendapatkan hukuman cambuk sebanyak 25 kali sabetan rotan dan dikurangi masa tahanan sebanyak dua kali.

Pengamatan Okezone, proses eksekusi berjalan dengan lancar, tak ada perlawanan yang dipertunjukkan dari para terpidana. Saat menahan sabetan rotan Muzakkir memperlihatkan wajah kesakitan, sehingga saat setengah hukuman telah dilakukan algojo berhenti sejenak. Berbeda dengan Cut, saat menerima cambukan dari algojo perempuan paruh baya itu tak memperlihatkan rasa sakit dari wajahnya, dirinya hanya diam menahan hingga sabetan hingga yang terakhir. (Baca Juga: Main Judi, Pasutri Dihukum Cambuk di Aceh)

Sementara itu, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan, pelaksanakan hukum cambuk merupakan komtimen pemerintah kota Banda Aceh dalam menegakkan syariat islam secara kaffah, salah satunya dengan cara kota Banda Aceh terbebas dari para pelanggaran syariat islam.

"Mulai dari maksiat, maisir atau judi, qammar atau minuman keras, pelanggaran apa saja dalam syariat islam kalau ditemukan dipastikan akan dikenakan hukuman," kata Aminullah.

Selain itu, pelaksanaan hukam cambuk di depan hukum, kata Aminullah, sebagai bentuk efek jera terhadap pelaku pelanggaran agar tidak mengulangi lagi perbuata tersebut. Dan di hadapan umum, bertujuan agar masyarakat bisa melihat dan menjadi pelajaran.

"Ini sebagai bentuk hukum yang menjadi efek jera bagi dia (pelaku), dan ini dihukum di depan orang ramai ini juga menjadi pelajaran bagi orang lain," ujarnya.

Aminullah menyebutkan, selama dirinya menjabat sebagai wali kota Banda Aceh sudah 75 orang yang dilakukan eksekusi cambuk. Jika dilihat dari tahun sebelumnya, katanya, angka pelanggar syariat islam terjadi penurunan. Pada 2016, sebanyak 256 orang pelanggar syariat islam yang telah dicambuk, dan menurun pada 2017 menjadi 183 orang.

"Alhamdulillah. Ini menjadi semakin ketat kita mengawal penegakan syariat islam di kota Banda Aceh bekerjasama dengan semua pihak. Nampaknnya ke depan akan semakin banyak menurun, tidak ada lagi pelanggaran syariat islam di Banda Aceh," pungakasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini