Ia menjelaskan, peristiwa tersebut bermula ketika muncul sebuah vorteks kolumnar intens dan melakukan aktivitas langsung di atas air. Adanya hubungan dan keterikatan secara langsung itu, lanjut Esti, menghasilkan hubungan dengan awan kumuliform (kumulonimbus) dan secara umum terlihat seperti tornado.
"Di mana mulanya awan tersebut berasal dari dasar awan kumulonimbus yang menjulang tinggi hingga dapat mencapai ketinggian tropopause, dan mengasilkan tornado kecil," terangnya.
Selain itu, dampak yang dihasilkan akibat hujan tersebut di antaranya adalah hujan deras yang dapat membuat kepulan es kristal.
"Awan kumulonimbus yang tumbuh secara intens dapat menimbulkan hujan deras, kilat/petir, angin kencang, puting beliung, dan hujan es," jelasnya.