Beberapa jam sebelum pertemuan, pasukan AS sepakat untuk mengebom wilayah Shitamachi di pinggiran Tokyo. Pengeboman itu dilancarkan guna memberi tahu Jepang bencana apa yang akan mereka hadapi sekaligus menghancurkan pabrik-pabrik yang memproduksi bahan baku perang.
Sekira pukul 17.34 waktu setempat, sebanyak 334 pesawat bomber Superfortrees B-29 lepas landas dari Saipan dan Tinian. Mereka tiba di lokasi pada 10 Maret 1945 pukul 00.15 waktu setempat. Dari ketinggian 500 kaki, ratusan pesawat itu serentak menjatuhkan bom di Shitamachi yang akan menyebar ke seluruh Tokyo.
Situasi itu sangat mengerikan. Bau anyir darah dan tubuh manusia yang hangus terbakar membuat para pilot pesawat bomber tidak tahan. Mereka harus memakai masker oksigen agar tidak muntah karena bau tersebut. Pengeboman berlangsung selama 48 jam.
“Air Sungai Sumida berubah menjadi hitam. Tidak terhitung mayat yang mengambang, baik itu yang masih berpakaian, telanjang, semua menghitam seperti halnya batu bara. Tidak bisa dipercaya,” ujar seorang dokter yang melihat insiden tersebut.
Area sekira 41 kilometer persegi luluh lantak dihantam bom. Sebanyak 80-130 ribu warga sipil Jepang diduga tewas dalam serangan tersebut. Di pihak tentara AS, sekira 243 orang pilot tewas, yang dianggap sebagai sebuah kehilangan yang wajar.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.