Ia menyampaikan, alasan dipilihnya Sapi Belgian Blue untuk dikembangkan secara khusus oleh Kementerian Pertanian adalah sapi jenis ini memiliki persentase karkas lebih tinggi (70-80%) dibandingkan sapi lainnya. Sehingga menurutnya, jika pengembangan sapi BB dilakukan melalui semen beku/embrio BB, maka akan jauh lebih murah dibandingkan memasukan sapi hidup dari negara asalnya.
Lebih lanjut Ia sampaikan, pengembangan sapi Belgian Blue dilakukan melalui teknologi Inseminasi Buatan (IB) dan Embrio Transfer (ET) yang diawali dengan uji coba Impor pada tahun 2015-2016 sebanyak 22 embrio dan semen beku 200 dosis di BET Cipelang Bogor secara tertutup.
“Sampai Maret 2018 kita telah berhasil melaksanakan kegiatan Transfer Embrio (TE) sebanyak 372 embrio dan dilahirkan 20 ekor sapi Belgian Blue melalui IB dari persilangan (simental, Limousin, dan FH) dan hasil Embrio Transfer 3 ekor,” ungkap Sugiono.
Ia menyebutkan, saat ini sapi yang dalam kondisi bunting hasil TE sebanyak 10 ekor dan IB 36 ekor. Selain itu di Balitnak Ciawi juga terdapat 4 ekor sapi bunting hasil TE. “Sapi keturunan Belgian Blue yang merupakan hasil persilangan dengan bangsa lain dapat lahir dengan normal tanpa kesulitan melahirkan,” ujarnya.
BET Cipelang pada tahun 2017 juga telah melakukan Pelatihan Transfer Embrio kepada petugas sebanyak 30 orang di 10 UPT terkait, pengadaan embrio sapi Belgian Blue 900 dosis dan pada tahun 2018 pengadaan semen beku Belgian Blue, embrio 900 dosis dan pelatihan Caesar.