nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cacing Pita Hidup dalam Kemasan Sarden, Warga Batam Dibuat Resah

ant, Jurnalis · Rabu 21 Maret 2018 14:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 21 340 1875901 cacing-pita-hidup-dalam-kemasan-sarden-warga-batam-dibuat-resah-OObntKyzQb.jpg ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

BATAM - Warga Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) diresahkan dengan peredaran makanan sarden mackarel dalam kemasan yang terdeteksi mengandung cacing pita oleh Badan Pengawasanan Obat dan Makanan (BPOM). Pemerintah Kota (Pemkot) Batam pun langsung membentuk tim untuk menyelidiki temuan tersebut.

"Saya minta tim melakukan investigasi, pendalaman terhadap produksi yang bersangkutan terindikasi ada cacingnya," kata Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad di Batam, Rabu (21/3/2018).

Hasil dari investigasi itu akan dilanjutkan dengan BPOM dan Dinas Kesehatan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan kepada manusia yang mengonsumsinya. "Prinsipnya, kalau benar, izin akan ditinjau ulang," kata Amsakar.

Menurut dia, sebenarnya BPOM telah melakukan pengawasan secara rutin terhadap produksi makanan dengan mengambil contoh dari yang diedarkan. Hingga saat ini, belum diketahui, apakah merek sarden yang mengandung cacing pita itu beredar di Batam. Namun, makanan kemasan itu ditemukan beredar Kabupaten Lingga, Kepri.

Di tempat yang sama Kepala Badan Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Atap Kota Batam, Gustian Riau menyatakan akan terus mengevaluasi perizinan yang telah diterbitkan. "Kami akan mencabut izin bila tidak sesuai operasional, dalam waktu dua hari ini," kata dia.

Gustian menyatakan akan bekerja sama dengan BPOM untuk menelusuri kasus itu. Sementara itu, Dinas Kesehatan Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lingga mengimbau pedagang menghentikan sementara penjualan ikan sarden kalengan merek MF, setelah ditemukan cacing pita yang terdapat dalam produk tersebut.

"Untuk sementara kami hentikan sebelum uji laboratorium dari BPOM keluar menyatakan bahwa produk tersebut tidak berbahaya," kata Kepala Dinas Kesehatan P2KB, Syamsurizal.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini