nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Awasi Laut China Selatan, Filipina Akan Pakai Pesawat Bekas Jepang

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 27 Maret 2018 00:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 26 18 1878214 awasi-laut-china-selatan-filipina-akan-pakai-pesawat-bekas-jepang-RUAycSQfEw.jpg Laut China Selatan (Foto: Reuters)

MANILA – Menteri Pertahanan (Menhan) Filipina, Delfin Lorenzana, mengakui bahwa sengketa di Laut China Selatan masih merupakan tantangan keamanan yang dihadapi negaranya. Sengketa itu juga masih menjadi ganjalan utama dalam peningkatan hubungan bilateral antara Filipina dengan China.

Pernyataan itu diungkapkan Lorenzana dalam prosesi penerimaan hibah tiga pesawat mata-mata maritim dari Jepang. Tiga unit pesawat TC90 bekas itu diyakini dapat meningkatkan kapabilitas Angkatan Laut (AL) Filipina dalam mengawasi wilayah Laut China Selatan.

“Kami harus mengakui masih banyak yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kapabilitas militer dalam rangka mengatasi tantangan-tantangan maritim yang ada,” ujar Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana di Manila, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (27/3/2018).

Selain sengketa di Laut China Selatan, Lorenzana mengakui Filipina menghadapi tantangan keamanan maritim lainnya yakni pembajakan di Laut Sulu serta kejahatan transnasional lainnya, termasuk penyelundupan narkoba serta penangkapan ikan secara ilegal.

Jepang berencana menyewakan lima pesawat mata-mata ke Filipina. Akan tetapi, rencana itu diubah pada 2017 menjadi hibah setelah Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) diizinkan menyumbangkan peralatan militer serta pertahanan ke negara-negara mitra.

Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Tatsuo Fukuda mengatakan, Negeri Matahari Terbit selalu ingin membantu mitra-mitranya untuk meningkatkan kapabilitas militer. Bantuan-bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keamanan di jalur perairan internasional serta tidak hanya bermanfaat bagi Filipina, tetapi juga seluruh kawasan Asia Tenggara.

AL Filipina mengklaim, pesawat-pesawat itu mampu mengawasi area hingga 300 kilometer (km). Jangkauan tersebut sudah dua kali lipat lebih baik dari armada milik Filipina dan dapat digunakan untuk berpatroli di sekira tujuh pulau buatan milik China di Gugus Kepulauan Spratly.

Sebagaimana diberitakan, China mengklaim seluruh wilayah Laut China Selatan ke dalam kedaulatannya berdasarkan sembilan garis putus-putus (nine dashed lines). Klaim tersebut tumpang tindih dengan sejumlah negara, yakni Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Vietnam.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini