Akibat kalah saing dengan ojek online, pengojek onthel pun satu-satu angkat koper. “Dulu di sini ada lebih dari 20 an sepeda, sekarang cuma tujuh saja. Banyak yang nyerah dan balik ke kampung,” tuturnya.
Abdul, pengojek onthel di Kota Tua (Chyntia/Okezone)
Sam (71), pengojek onthel yang sering mangkal di depan Museum Bahari, Kota Tua mengeluh hal serupa. Sam bercerita dulu dia kerap mengantar penumpang sampai ke Muara Baru dan Pluit, Jakarta Utara. Kini, wilayah operasinya hanya sebatas kawasan Kota Tua dan paling jauh ke Pasar Pagi.
Ojek online kini jadi primadona bagi warga Jakarta. Selain mudah dipesan dengan gawai, harganya juga terjangkau bahwa tak perlu tawar-menawar lagi karena semua sudah tertera di sistem aplikasi. Keunggulan lain adalah lebih cepat, karena dapat melintasi jalur alternatif atau menyelip di antara kemacetan Ibu Kota.