Cak Imin menjelaskan alasan mengapa sosok Bung Karno dan Gus Dur, karena sebagai gabungan Sukarnoisme dan Gusdurisme atau yang saya singkat sebagai Sudurisme, Sukarnoisme-Gusdurisme.
"Sudur itu artinya dada. Di dada ini ada harga diri, di dada ini ada kemandirian, di dada ini ada yang disebut sebagai pride, kebanggaan sebagai bangsa. Di balik dada ada hati, nurani dan suara kebenaran," jelasnya.
Ia menjelaskan, Sukarno membawa api Islam sebagai pijakan-pijakan, prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara. Gusdur melaksanakan pribumisasi Islam. Sehingga Iislam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam semangat kebangsaan semuanya. Tidak ada dikotomi antara Islam dan kebangsaan.
"Jadi, Iislam dan realitas keindonesiaan menyatu menjadi saling isi mengisi, itu diskusi panjang. Sudurisme. Pak hasto pengawal Sukarnoisme saya pengawal Gusdurisme. Digabung menjadi Sudurisme. Kira-kira seperti itu," ungkapnya.
(Ulung Tranggana)