Rusia: Suriah Diserang saat Berkesempatan Mencapai Perdamaian

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 14 April 2018 14:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 14 18 1886624 rusia-suriah-diserang-saat-berkesempatan-mencapai-perdamaian-CZTYOtKIyD.JPG Warga Suriah mengibarkan bendera nasional Rusia dan Iran (Foto: Omar Sanadiki/Reuters)

MOSKOW – Rusia menuduh koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) menyerang Suriah di saat yang keliru. Menurut Moskow, Suriah saat ini justru memiliki kesempatan yang baik untuk perdamaian.

“Pertama ‘Arab Spring’ menguji keteguhan masyarakat Suriah, kemudian ISIS, lalu sekarang rudal pintar Amerika Serikat. Ibu Kota dari sebuah pemerintahan berdaulat, mencoba selama bertahun-tahun untuk bertahan di bawah serangan teroris, kini diserang,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, melansir dari Reuters, Sabtu (14/4/2018).

“Anda harus menjadi sedikit abnormal untuk menyerang Ibu Kota Suriah di saat mereka memiliki kesempatan akan masa depan yang damai,” imbuh Zakharova.

BACA JUGA: Trump Umumkan Serangan Militer Tiga Negara ke Suriah

Di Washington, Duta Besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov, mengingatkan serangan militer Negeri Paman Sam akan mendapatkan konsekuensi. Menurutnya, serangan tersebut justru mengejek Presiden Rusia, Vladimir Putin.

“Skenario yang sebelumnya sudah dirancang kini dilakukan. Sekali lagi, kami diancam. Kami mengingatkan tindakan semacam itu tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi,” cuit Anatoly Antonov lewat akun Twitter.

“Menghina Presiden Rusia sangat tidak bisa diterima dan dibiarkan begitu saja. AS, pemilik senjata kimia terbesar di dunia, tidak punya hak moral untuk menyalahkan negara lain,” imbuhnya.

Sementara itu, pasukan pemerintah Suriah dan sekutu-sekutunya berhasil menggagalkan serangan yang dipimpin koalisi AS pada dini hari waktu setempat. Fasilitas-fasilitas yang menjadi target serangan juga sudah dikosongkan beberapa hari sebelumnya setelah mendapatkan peringatan dari Rusia.

Sebagaimana diberitakan, Presiden AS Donald Trump memerintah serangan militer terhadap fasilitas-fasilitas senjata kimia Suriah yang dilakukan bersama dengan Inggris dan Prancis. Pria asal New York itu mengatakan, keputusan diambil untuk membalas serangan senjata kimia pasukan Suriah ke Douma pada Sabtu 7 April yang menewaskan 41 orang.

BACA JUGA: Serangan Militer Bukan untuk Gulingkan Rezim Suriah

Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, memastikan bahwa serangan ditujukan untuk menghancurkan kapabilitas senjata kimia, bukan menggulingkan rezim Suriah. London disebutnya tidak akan mengizinkan penggunaan senjata kimia sebagai sesuatu yang normal, entah itu di Suriah, jalanan Inggris, atau di tempat lain di seluruh dunia.

Pendapat senada diungkapkan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris. Pria berusia 40 tahun itu mengatakan bahwa serangan yang dilakukan bersama Amerika Serikat (AS) dan Inggris karena pihaknya tidak menoleransi penggunaan senjata kimia yang terus-menerus terhadap warga sipil Suriah.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini