Sementara itu, pasukan pemerintah Suriah dan sekutu-sekutunya berhasil menggagalkan serangan yang dipimpin koalisi AS pada dini hari waktu setempat. Fasilitas-fasilitas yang menjadi target serangan juga sudah dikosongkan beberapa hari sebelumnya setelah mendapatkan peringatan dari Rusia.
Sebagaimana diberitakan, Presiden AS Donald Trump memerintah serangan militer terhadap fasilitas-fasilitas senjata kimia Suriah yang dilakukan bersama dengan Inggris dan Prancis. Pria asal New York itu mengatakan, keputusan diambil untuk membalas serangan senjata kimia pasukan Suriah ke Douma pada Sabtu 7 April yang menewaskan 41 orang.
BACA JUGA: Serangan Militer Bukan untuk Gulingkan Rezim Suriah
Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, memastikan bahwa serangan ditujukan untuk menghancurkan kapabilitas senjata kimia, bukan menggulingkan rezim Suriah. London disebutnya tidak akan mengizinkan penggunaan senjata kimia sebagai sesuatu yang normal, entah itu di Suriah, jalanan Inggris, atau di tempat lain di seluruh dunia.
Pendapat senada diungkapkan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris. Pria berusia 40 tahun itu mengatakan bahwa serangan yang dilakukan bersama Amerika Serikat (AS) dan Inggris karena pihaknya tidak menoleransi penggunaan senjata kimia yang terus-menerus terhadap warga sipil Suriah.
(Wikanto Arungbudoyo)