Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Balada Layar Tancap yang Tergerus Zaman

Chyntia Sami Bhayangkara , Jurnalis-Sabtu, 14 April 2018 |09:03 WIB
Balada Layar Tancap yang Tergerus Zaman
Warga menonton layar tancap film G30S PKI di Lapangan Hiraq, Lhokseumawe, Aceh (Rahmat/Antara)
A
A
A

MASIH belum lekang dalam ingatan Yuliani (51) tentang kenangan 35 tahun lalu saat layar tancap masih berjaya. Di Lapangan Pakis, Kepanjen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tiap Sabtu malam, dia tak pernah absen menonton pertunjukan layar tancap.

“Dulu era tahun 1980-an, layar tancap itu jadi hiburan yang paling ditunggu,” kenang Yuliani yang kini sudah berdomisili di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis 12 April 2018.

Yuliani muda tinggal di Pecinan, Klaten. Tak banyak hiburan saat itu, layar tancap salah satu paling ditunggu warga tiap malam Minggu. Apalagi kalau yang diputar film dengan aktornya Barry Prima. Pasti ramai.

Saban akhir pekan atau liburan sekolah, Lapangan Pakis selalu menyajikan film layar tancap. Layar putih besar di bentang di tengah lapangan lalu disorot dengan cahaya, muncullah adegan per adegan. Masyarakat sangat antusias menyaksikan.

Berbeda dengan bioskop, bagi Yuliani, menonton layar tancap lebih seru. Digelar di lapangan terbuka, suasanya lebih semarak dengan riuhnya penonton. Tiap adegan seru, penonton menyoraki, menambah atmosfer nonton bareng. Di lokasi, warga saling berinteraksi satu sama lain, berbagi cerita, menambah pertemanan juga.

Promo film layar tancap (foto dok Perfiki)

Karena pertunjukannya di lapangan terbuka, layar tancap kerap bubar jika hujan tiba-tiba turun, walau film lagi seru-serunya. Maka ada istilah layar tancap adalah bioskop misbar alias gerimis bubar.

Pertunjukan layar tancap juga jadi ajang pedagangan asongan mengais rezeki. Mereka berseliweran di antara kerumunan warga menawarkan beraneka ragam makanan dan minuman ringan. Ada juga yang mangkal di sudut-sudut lapangan atau pinggir jalan. Khasnya lagi, jelang pertunjukan biasanya ada orator keliling kampung mengajak warga meramaikan nonton bareng.

Tapi, 35 tahun berlalu, pertunjukan layar tancap di Lapangan Pakis tinggal kenangan. Lapangan Pakis kini juga tak selapang dulu, karena sebagian sudah berdiri bangunan rumah-rumah dan masjid.

“Layar tancap udah enggak laku lagi,” tutur Yuliani sembari memandang foto Lapangan Pakis tempat sering dia menonton layar tancap dulu.

Alat Propaganda

Layar tancap pertama kali dikenal di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Hiburan yang menyajikan pertunjukkan film tersebut pun dijadikan sebagai alat propaganda bagi kolonial, sekaligus media penyuluhan penyakit yang sempat merajalela di nusantara kala itu.

Setelah Indonesia merdeka, layar tancap tetap jadi primadona. Era keyaannya mulai dari 1970 hingga akhir 90-an. Layar tancap menjadi salah satu media promosi film-film Indonesia. Beragam film action, komedi hingga horor disajikan via layar tancap dari kota-kota hingga pelosok desa. Layar tancap juga sering dijadikan salah satu media sosialisasi program-program pemerintah, seperti Keluarga Berencana.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement