Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Balada Layar Tancap yang Tergerus Zaman

Chyntia Sami Bhayangkara , Jurnalis-Sabtu, 14 April 2018 |09:03 WIB
Balada Layar Tancap yang Tergerus Zaman
Warga menonton layar tancap film G30S PKI di Lapangan Hiraq, Lhokseumawe, Aceh (Rahmat/Antara)
A
A
A

Layar tancap bukan hanya sajian masyarakat pedesaan, tapi juga perkotaan. Di Jakarta misalnya, pada era tahun 90-an, layar tancap bisa ditonton di berbagai tempat.

Fazry, warga Jakarta Selatan masih ingat, tiap malam 17 Agustus era 90-an, dia sering nonton layar tancap di Tebet Dalam. “Biasanya film horor,” kata dia. “Tapi sekarang udah enggak ada lagi.”

Awaluddin, warga Jakarta Barat juga menuturkan hal serupa. Sekitar tahun 90-an, Awal yang saat itu masih bocah sering melihat pertunjukan layar tancap di Duri Kosambi, Kembangan, Taman Koja, Cengkareng, Tambora, Jakarta Barat.

Awal bercerita, era 90-an warga yang memiliki televisi tak sebanyak sekarang. Layar tancap hiburan gratis paling menyenangkan. “Tapi setelah tahun 2000 kayaknya udah enggak ada lagi, paling adanya udah di pinggiran (Jakarta),” tuturnya.

Beda dengan Bioskop

Menurut Ketua Persatuan Film Keliling Indonesia (Perfiki), Sonny Pudjisasono, layar tancap digemari karena suasana nonton barengnya yang seru.

Seluloid film layar tancap (dok Perfiki)

“Orang nonton layar tancap itu yang dibeli suasananya. Ini jadi sarana aktualisasi bagi masyarakat yang tidak bisa ditemukan di sarana hiburan modern lain seperti bioskop di gedung apalagi nonton film di rumah,” ujarnya.

Saat menonton bioskop, orang-orang cenderung pasif. Suasanya juga hening kecuali hanya suara audio dari film yang terdengar menguasai ruangan. Tak ada riuh rendah suara penonton, sorakan, pekik keguman atau bahkan suara tangis bayi seperti suara yang kerap terdengar di pertunjukan layar tancap.

Sonny Pudjisasono menuturkan, masyarakat Indonesia yang didominasi para petani dan hidup di pedesaan membutuhkan hiburan yang mudah dicerna, salah satunya layar tancap.

“Masyarakat kita itu adalah masyarakat agraris yang dari pagi sampai sore ada di ladang, mereka capek. Walaupun sudah ada koran masuk desa pada waktu itu, mereka lebih senang dengan informasi pandang dengar dari film ini. Lebih simple dan mudah dicerna,” ujar Sonny.

Sonny mengakui penonton layar tancap menurun drastis seiring dengan kemajuan teknologi digital dan bertaburnya bioskop-bioskop modern. Era digital telah memudahkan masyarakat menonton film melalui TV berlangganan, komputer, laptop bahkan gawai. Internet memanjakan penikmat film. Sejurus kemudian, layar tancap pun tergerus.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement