Terus dilestarikan
Tapi layar tancap, menurut dia, tak akan mati. Hanya saja pangsa pasarnya bergeser. Pengusaha layar tancap yang masih tersisa kini menyasar desa-desa pinggiran terutama di Pulau Jawa, memberi hiburan bagi masyarakat-masyarakat yang masih jauh dari akses bioskop. Selebihnya adalah menawarkan paket pertunjukkan untuk acara hajatan pernikahan atau khitanan.
“Kalau enggak disiasati begini, pasti layar tancap sudah punah,” kata Sonny.
Hal itu diakui Aminah (46), pemilik usaha layar tancap CV Pendi Film di Kampung Babakan RT 04 RW 04, Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dia mengakui kini usahanya sepi peminat. "Layar hanya keluar 2 dalam setahun. Beda sama 10 tahun lalu, ramai sekali. Bisa keluar 5 layar, paling sedikit dua," katanya.
Aminah menuturkan, saat layar tancap masih berjaya, dia sering dapat orderan bukan saja di Bekasi, tapi juga Bogor hingga Karawang. Sehari dia bisa meraup Rp1 sampai 2 juta. Tapi sekarang pendapatnya anjlok drastis.
Aminah, pengusaha layar tancap (Wijayakusuma/Okezone)
Pun demikian, Aminah belum berniat pensiun dari layar tancap. Pasar disasarnya kini hajatan-hajatan, meski orderannya tetap minim. "Tidak ada niat berhenti usaha. Dibiarkan saja alat-alat filmnya.”
Menurut Sonny, beberapa pengusaha layar tancap kini mulai hijrah menjajakan jasa pemutaran layar tancap di daerah pinggiran luar Pulau Jawa seperti Kalimantan. Layar tancap, kata Sonny, adalah hiburan merakyat yang harus terus dilestarikan.
Budayawan, Ngatawi Al Zastrouw berharap layar tancap bisa terus dilestarikan. “Layar tancap masih sangat mungkin untuk dibumikan, kerjasama seluruh stakeholder sangat penting untuk membangkitkan gairah penikmatnya. Para kreator juga harus menciptakan kreasi dan inovasi untuk menarik generasi milenial sebagai pangsa pasar,” ujarnya.
(Salman Mardira)