nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Suku Anak Dalam dan Keberadaannya yang Kian Terancam

Abimayu, Jurnalis · Minggu 29 April 2018 14:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 29 340 1892588 suku-anak-dalam-dan-keberadaannya-yang-kian-terancam-sAVGbsmDAc.jpg Ilustrasi Suku Anak Dalam

SAROLANGUN - Berbicara soal Suku Anak Dalam (SAD), tentu berbicara pula soal suku minoritas di Jambi dan Sumatera Selatan. Dari data yang dihimpun, jumlah Suku Anak Dalam di dua provinsi ini mencapai 200.000 orang.

Mayoritas Suku Anak Dalam hidup di pedalaman Jambi, sebagian besar dari mereka hidup di kawasan bukit 12 dan taman bukit 30 di Kabupaten Bungo, Tebo, Sarolangun dan Batanghari.

Sebenarnya, Suku Anak Dalam bukan merupakan nama asli mereka, nama tersebut merupakan nama populer yang disebar oleh Kementerian Sosial untuk menggambarkan suku terbelakang yang hidup di pedalaman dan jauh dari hiruk pikuk masyarakat perkotaan.

Dalam panggilan sehari-hari, Suku Anak Dalam biasa dipanggil Suku Kubu. Nama ini memproyeksikan suatu kelompok masyarakat yang terbelakang, kotor, dan primitif. Karena mendapat stigma negatif, pemerintah pun memberikan sebutan Suku Anak Dalam untuk mereka.

Sedangkan Suku Anak Dalam sendiri menyebut diri mereka sebagai Suku Rimba atau sekelompok masyarakat yang tinggal jauh di dalam hutan. Keberadaan Suku Anak Dalam sendiri tergolong langka, karena selain jumlahnya yang sedikit, tempat tinggal mereka pun sering berpindah dari satu hutan ke hutan yang lain atau nomaden.

Pemerintah pun menginisiasi pembangunan kawasan terpadu untuk suku tersebut. Hal tersebut untuk menjamin kehidupan kelompok masyarakat itu, sehingga tidak pindah ke satu hutan ke hutan lainnya yang sudah mulai terkikis pembangunan.

"Pertama saya kunjungi di sini, begitu tersentuh melihat masih ada keluarga kita yang hidup berpindah, dengan sekuat tenaga saya dan Bupati Sarolangun mengusulkan agar ada satu kawasan terpadu, yang bisa menjadi sentral kegiatan mereka, sehingga mereka bisa hidup menetap dan juga bisa bercocok tanam" jelas Pangdam II/SWJ Mayjend AM Putranto di sela mengunjungi kawasan terpadu mandiri di Desa Lubuk Jering, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Kawasan terpadu seluas 10 hektare ini bakal dibangun dengan sederet fasilitas seperti pemukiman SAD, sekolah, balai pertemuan, puskesmas, MCK hingga UPTD Suku Anak Dalam. Nantinya, kawasan itu akan ditempati oleh enam kelompok atau tumenggung Suku Anak Dalam. Pihak Kodam sendiri mengklaim bahwa seluruh temenggung tersebut sudah setuju untuk ditempatkan di kawasan terpadu.

"Mereka setuju, dan kita buktikan bahwa pemerintah juga memperhatikan mereka, ini kawasan terpadu mandiri ada seluas 10 hektare, dan masih terus dibangun," bebernya.

Sementara itu Bupati Sarolangun Cek Endra, menjelaskan bahwa dibangunnya kawasan terpadu mandiri akan membuat pola pembinaan baik pendidikan, kesehatan, dan juga pertanian akan lebih mudah dilakukan.

"Tujuan kita murni untuk memanusiakan manusia, dan mereka adalah warga negera indonesia dan berhak hidup setara dengan masyarakat umum lainnya," tandas Cek Endra.

Seperti diketahui, asal usul Suku Anak Dalam belum diungkapkan secara mendalam. Ada beberapa versi rumor yang berkembang. Ada yang megatakan Suku Anak Dalam berasal dari Sumatera Barat. Konon, mereka adalah orang-orang yang tidak mau ikut berperang melawan penjajah Belanda dan memilih melarikan diri kedalam hutan jambi.

Pernyataan ini diperkuat dengan kesamaan bahasa dan adat istiadat Suku Anak Dalam dengan suku Minangkabau. Sementara menurut rumor lain Suku Anak Dalam adalah masyarakat Sriwijaya yang melarikan diri karena tidak mau tunduk di bawah kekuasaan asing saat terjadi peperangan antara kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Cola, India. Masih banyak cerita lain yang berkembang mengenai asal Suku Anak Dalam ini.

Sekarang Suku Anak Dalam mulai terancam kehidupannya. Hutan tempat mereka tinggal dan berburu makanan sehari-hari sudah banyak ditebang dan dijadikan kebun sawit dan karet.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini