Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mobil-mobilan Kayu yang Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi

Arie Dwi Satrio , Jurnalis-Sabtu, 05 Mei 2018 |09:05 WIB
Mobil-mobilan Kayu yang Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi
Mobil-mobilan dari kayu di kios samping Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata, Jakarta Selatan (Arie DS/Okezone)
A
A
A

ANEKA replika mobil berwarna-warni terpajang di kios sisi barat Taman Makam Pahlawan (TMP), Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata, Jakarta Selatan. Marsa'ad alias Umar (76), sang pengrajin mobil-mobilan itu, duduk di sela tumpukan mainan buatannya menanti pembeli. Kendaraan terus berseliweran di jalan depan kiosnya.

Kios yang menjajakkan berbagai jenis mainan berbahan dasar kayu itu sudah ada sejak 1997. Umar mengakui jika akhir-akhir ini, mainan tersebut peminatnya mulai menurun, dibanding era 90 hingga 2000-an saat mainan kayu masih berjaya.

“Kadang sehari‎ bisa laku 20 sampai 30, kadang cuma lima, tapi ya ada saja," tutur Umar saat ditemui Okezone, tengah pekan ini. Dulu saat masih berjaya, Umar malah kewalahan menerima orderan.

Ada dua kios yang menjajakan mainan kayu milik Umar di dekat TMP. Miniatur mobil, pikap, bus Metromini, mobil boks, bajaj, truk tanki, kontainer, bus Transjakarta hingga kereta api terpajang di situ. Ada juga kursi goyang berbentuk seperti kuda. Mainan itu terbuat dari kayu lalu dicat menyerupai bentuk aslinya.

Mainan kayu sangat populer di era 90-an hingga awal 2000-an. Selain mobil-mobilan, ada yoyo, gasing, gimbot dan monopoli yang digandrungi anak-anak kala itu. Belum lagi permainan tradisional yang berbeda-beda di daerah.

Tapi sekarang mulai terkikis dengan maraknya mainan modern yang serba praktis. Mainan-mainan impor dengan harga miring menguasai pasar. Belum lagi gadget dan games online yang mudah sekali diakses semua usia.

Namun, Umar yakin mainan buatannya tetap laku meski pembelinya tak seramai dulu. Setidaknya masih ada orangtua yang ingin membeli mainan kayu untuk anak-anaknya.

Sebut saja Yudi, warga Cidodol, Jakarta Selatan. Ia tak mau keponakannya kecanduan games online dan gadget yang membuat si anak pasif. Yudi ingin sang ponaannya bisa menikmati mainan kayu seperti anak-anak di masa kecilnya dulu. Maka, Yudi pun membeli truk mainan buatan Umar untuk keponakannya.

"Ini beliin mainan untuk keponakan, karena kepengen melestarikan saja. Sekarang kan udah cenderung ke gadget, ngasah motorik anak, nanti nih (truk-trukan) ditarik-tarik keluar, jadi biar enggak diam dirumah aja, karena kan anak sekarang kalau udah main gadget dipanggil saja enggak mau dengar," paparnya.

Fiddy, warga Pancoran, Jakarta Selatan juga pernah membeli mainan truk di kios Umar untuk anaknya yang masih balita. Harganya Rp150 ribu. Fiddy ingin anaknya bisa bermain dengan mainan kayu agar lebih aktif dan bisa sekaligus belajar dengan alam. “Mainan kayu ini lebih edukatif,” katanya.

Marsa'ad alias Umar (Arie/Okezone)

Selain untuk mainan anak-anak, mobil-mobilan dari kayu juga kerap dijadikan barang koleksi atau pajangan di rumah-rumah, kantor maupun kafe-kafe. Misalnya Arbi. Warga Pasar Minggu itu punya hobi mengoleksi mainan unik.

Arbi membeli replika bajaj oranye di kios Umar. “Saya beli untuk koleksi saja, soalnya bajaj aslinya kan udah enggak ada di Jakarta, padahal ini salah satu ikon asli Jakarta," ujarnya.

Bagi Arbi harga mahal tak masalah. “Kalau ngomong seni, jangan bicara soal harga."

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement