Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 05 Mei 2018 |11:19 WIB
Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian
Ronald Regang (kiri) dan Iskandar Slamet ikut di garis depan medan tempur sejak 10 tahun dan 13 tahun (Foto: BBC)
A
A
A

PENDETA Jacky Manuputty masih dihantui oleh langkahnya memberkati para kombatan saat konflik berdarah bergolak di Ambon hampir 20 tahun lalu.

"Saya tak pernah membawa senjata namun doa saya dan berkat saya lebih dahsyat dibandingkan senjata. Dengan memberkati, mereka (para kombatan) percaya bahwa inilah perang suci," kata Pendeta Jacky pada satu hari Minggu setelah memimpin kebaktian di Gereja Silo, salah satu gereja tertua di Ambon.

Konflik paling berdarah di Indonesia dengan korban lebih dari 5.000 orang meninggal, membuat banyak orang "tak punya waktu untuk rasional, dan hanya dapat bertahan, bunuh atau dibunuh," kata Jacky.

"Saya terlibat dalam konflik untuk memotivasi Kristen mempertahankan hidup dan milik mereka," tambahnya.

Sejak konflik pecah pada Januari 1999, Pendeta Jacky sempat mengalami masa terombang-ambing: membela komunitasnya atau melihat konflik sebagai bencana kemanusiaan.

Undangan Sinode Gereja Presbyterian di New York City, beberapa bulan setelah kerusuhan pecah, yang seolah "memanggang sekujur tubuhnya" saat itu.

Saat datang ke Amerika Serikat pada April 1999, ia hanya bercerita tentang korban Kristen, pernyataan yang mengundang pertanyaan "Mengapa Anda hanya bercerita tentang orang Kristen yang menjadi korban di Maluku? Staf kami baru kembali dari Indonesia dan menginformasikan bahwa banyak muslim juga menjadi korban."

Pertanyaan pihak gereja yang membuatnya "malu, gelagapan dan tertunduk dalam diam" ini, menjadi salah satu awal perjalanannya melihat konflik sebagai bencana bagi masyarakat Maluku secara keseluruhan dan bukan konflik agama.

Salah satu titik awal baginya untuk menjalin komunikasi dengan pihak muslim dan ikut mengupayakan perdamaian.

"Namun pada saat itu saya tak bisa mempublikasikan perdamaian karena ketika orang mabuk akan perang, bisa bahaya. Kami kerja di bawah tanah," ceritanya lagi.

Perjalanan panjang ini yang membawanya bertemu dengan para pemuka Muslim, salah seorang di antaranya Ustad Abidin Wakano.

Perjalanan ini juga yang membawa keduanya bersahabat dan berupaya menjadi "panutan" untuk ikut merajut rasa saling percaya komunitas Kristen dan Muslim yang saat itu mencapai titik saling benci dan dendam yang begitu tinggi.

Mereka yang terseret dalam bara kebencian, dendam dengan saling menyerang dan saling membunuh ini termasuk banyak kombatan anak yang ikut berada di garis depan perang selama bertahun-tahun.

Sejumlah di antara mereka termasuk Ronald Regang yang menjadi pemimpin komandan pasukan anak Kristen dan Iskandar Slameth, yang tergabung dalam Pasukan Jihad. Ronald berusia 10 tahun saat mulai masuk medan tempur dan Iskandar 13 tahun.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement