Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 05 Mei 2018 |11:19 WIB
Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian
Ronald Regang (kiri) dan Iskandar Slamet ikut di garis depan medan tempur sejak 10 tahun dan 13 tahun (Foto: BBC)
A
A
A

Setelah konflik mulai mereda, menyusul perjanjian Malino pada 2002, mereka mengalami trauma mendalam atas pengalaman mereka.

Orang mengatakan kami penyebab Ambon rusuh

Di tengah masyarakat yang terpecah saat itu, mereka justru dituduh sebagai bagian dari "penyebab kerusuhan."

“Dulu kita dianggap sebagai pahlawan karena kita maju ke medan pertempuran di garis depan, nyawa taruhan kita, dulu kita dianggap sebagai Tuhan kedua dalam medan pertempuran… setelah konflik memang kita dikucilkan," cerita Ronald.

"Kalau tak ada kita saat itu, apakah kalian masih ada? Tidak ada daerah Kristen yang bisa bertahan berapa belas tahun atau daerah Muslim yang bisa bertahan. Saya tak tahu kenapa orang berpikir seperti itu … Memang sakit hati," tambahnya.

Sementara Iskandar lari ke narkoba untuk mengatasi rasa "stres"nya.

"Jadi bandar, jadi pemakai, kehidupan malam," kata Iskandar.

Ronald dan Iskandar mengatakan keduanya bersahabat setelah saling mengungkap pengalaman dan perasaan pada pertemuan tahun 2006.  (BBC)

Sejak perjanjian Damai Malino 2002, gejolak masih terjadi beberapa kali dan suasana masih begitu rentan.

Kedua mantan kombatan anak dan bekas musuh ini bertemu dalam salah satu acara lintas damai yang melibatkan Lembaga Antar Iman Maluku, wadah yang diorganisir Pendeta Jacky dan Ustad Abidin.

Jacky mengatakan, "Saat masuk ke Young Ambassador for Peace, staf Lembaga Antar Iman Maluku, bertemu dengan mantan fighters (pejuang), jihadis mini, mereka sempat tegang tapi selalu ada pengaman dari mereka yang telah membangun relasi sebagai sahabat Muslim dan Kristen."

Dalam pertemuan ini, para mantan tentara anak mengungkap pengalaman dan perasaan masing-masing.

"Saya tulis saya paling benci sama orang Kristen, karena kakak saya hancur kakinya, sepupu saya mati. Lalu saya bakar semua (tulisan itu)," cerita Iskandar mengenang pertemuan dengan mantan petempur Kristen pada 2006.

Sementara Ronald mengatakan, "Saat itu tak ada kemarahan, tapi merasa bersalah. Saya minta maaf kepada orang Muslim yang pernah saya bunuh, saya minta maaf untuk semua orang Muslim dan saya katakan bukan saya saja yang membunuh, tapi semua orang saat itu membunuh, prinsipnya adalah bila tak membunuh akan dibunuh."

"Kita tak tahu apa yang kita perbuat saat itu, dan seandainya kalau kita tahu pun, kita tak akan lakukan," kata Ronald.

Pendeta Jacky mengatakan saling bertemu antara mantan tentara anak Muslim dan Kristen ini merupakan salah satu langkah awal untuk memulihkan trauma dan sekaligus membangkitkan rasa saling percaya antara dua komunitas yang terpecah.

Mereka juga diajak keluar Ambon, ke Yogyakarta, Jakarta dan juga Filipina, dalam berbagai kegiatan untuk menceritakan pengalaman sebagai bekas kombatan anak.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement