Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 05 Mei 2018 |11:19 WIB
Kisah Persahabatan Pendeta dan Ustad Bawa Mantan Tentara Anak Ambon Jadi Duta Perdamaian
Ronald Regang (kiri) dan Iskandar Slamet ikut di garis depan medan tempur sejak 10 tahun dan 13 tahun (Foto: BBC)
A
A
A

"Dia (Ronald) dihormati sebagai fighters (pejuang) di dalam konflik, ketika konflik selesai, masyarakat umumnya menyingkirkan mereka. Dan menganggap mereka sebagai orang-orang bermasalah di masyarakat. Mereka dikucilkan," kata Pendeta Jacky.

Melalui perjumpaan secara intensif ini, kata Ustad Abidin, "Mereka saling memahami bahwa mereka menjadi korban… anak-anak seusia mereka yang juga mengalami korban yang sama, kakek, nenek, saudara, sahabat yang meninggal atau bahkan kampung halaman yang dibakar. Dari situ mereka berjumpa dan ternyata mereka menyadari mereka memiliki nasib yang sama."

Proses untuk kembali merajut saling percaya ini dilanjutkan dengan saling berkunjung ke wilayah masing-masing, perjalanan melintas batas tempat tinggal yang sangat berat dilakukan saat itu sekalipun konflik mulai mereda.

"Mereka bisa tinggal di rumah laskar jihad (misalnya), dari situ anggapan bahwa yang berjenggot jahat ternyata tidak," kata Abidin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia, Maluku.

"Orang seperti Ronald, dia bertemu seorang ustad… yang sebelumnya dia anggap identik dengan teroris dan pertemuan ini merubah prospektif terhadap orang yang semula dianggap jahat," tambahnya.

Persahabatan dan saling percaya yang ditunjukkan ustad dan pendeta ini menjadi salah satu kunci bagi para mantan tentara anak untuk kembali membangkitkan rasa percaya.

"Saat mereka kembali ke komunitas masing-masing, mereka dikelilingi oleh orang yang masih memendam kebencian satu sama lain, karena itu kami mulai mengajak mereka untuk saling mengunjungi," kata Pendeta Jacky yang saat ini menjadi asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antariman dan Antarperadaban.

"Dia (Ronald) melihat saya dan Ustad Abidin menjadi sahabat dan keluarga, dan itu merubah citra dia tentang Muslim. Kami pertemukan dia dengan teman-teman Muslim. Dia membandingkan dengan apa yang dia pahami sebelummya. Rasa percaya mulai tumbuh. Kami libatkan dia dalam lingkungan yang lebih luas."

"Dia percaya Ustad Abidin sebagai panutan (untuk percaya Muslim) dan saya menggaransi (kepercayaan itu). Dari Ustad Abidin dia bangun rasa percaya," tambahnya.

Masyarakat Maluku dan Ambon pada khususnya saat ini masih tinggal terkotak-kotak. Ada wilayah Kristen dan ada wilayah Muslim.

Segregasi sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda yang memang menempatkan masyarakat sedemikian rupa dalam kebijakan memecah belah. Namun konflik menjadikan pemisahan menjadi "permanen.'

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement