Penjinak bom di gereja Surabaya (Antara)
Faktor internasional adalah adanya ketidak-adilan global, politik luar negeri yang arogan dari negera-negara kapitalis seperti Amerika Serikat. “Imperialisme fisik dan non fisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara super power dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya,” ujar Harits.
Keudian faktor realitas kultural yang melahirkan terorisme sering timbul pada subtansi atau melalui teks-teks ajaran sebuah agama yang interpretasinya cukup variatif.
“Ketiga faktor tersebut kemudian bertemu dengan faktor-faktor situasional yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme,” pungkas Harits.
Sebelumnya Direktur Pencegahan BNPT, Hamli dalam sebuah diskusi di Menteng, Jakarta, Jumat lalu mengatakan bahwa hampir semua kampus negeri dari Jakarta hingga Jawa Timur sudah terpapar paham radikalisme. “Yang banyak kenak itu di fakultas eksakta,” katanya.