Lebih dari 300 Tewas dalam Tiga Bulan Demonstrasi Anti Pemerintah di Nikaragua

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 16 Juli 2018 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 07 16 18 1922850 lebih-dari-300-tewas-dalam-tiga-bulan-demonstrasi-anti-pemerintah-di-nikaragua-76HvGPk1NF.jpg Foto: Reuters.

MANAGUA – Polisi dan kelompok paramiliter yang loyal terhadap Presiden Daniel Ortega menewaskan sedikitnya 10 orang pada Minggu dan menambah jumlah korban tewas dari kerusuhan yang terjadi di negara Amerika Tengah itu. Demonstrasi yang telah berlangsung sejak hampir tiga bulan lalu itu diperkirakan telah menewaskan lebih dari 300 orang.

Alvaro Leiva dari Asosiasi Hak Asasi Manusia Nikaragua mengatakan, para korban tersebut terbunuh saat pasukan pemerintah menyerbu komunitas di Monimbo dan Kota Masaya di dekatnya, sekira 25 kilometer dari Ibu Kota Managua pada Minggu.

BACA JUGA: Pengepungan Militer terhadap Mahasiswa di Gereja Nikaragua Berakhir

"Kami sedang berbicara tentang lebih dari 10 kematian saat ini," kata Leiva kepada stasiun televisi nasional sebagaimana dilansir Reuters, Senin (16/7/2018). Sejauh ini tidak ada komentar dari Pemerintah Nikaragua mengenai pernyataan Leiva.

Hampir tiga bulan bentrokan antara pasukan pro-Ortega dengan para demonstran yang menuntut penggantian presiden telah merenggut 300 nyawa. Ini adalah demonstrasi paling berdarah di Nikaragua sejak perang sipil negara itu berakhir pada 1990.

Pada Sabtu, uskup Nikaragua berhasil mengamankan pembebasan puluhan mahasiswa yang terjebak di dalam sebuah gereja di tengah serangan kelompok pro pemerintah. Seorang mahasiswa tewas dalam kejadian tersebut.

BACA JUGA: Korban Tewas Demonstrasi Anti-Pemerintah di Nikaragua Jadi 264 Orang

Kerusuhan pecah di Nikaragua pada April saat Presiden Ortega mengusulkan pengurangan tunjangan pensiun untuk meringankan beban anggaran. Meskipun rencana itu akhirnya dibatalkan, namun kerusuhan dan kekerasan menuntut mundurnya Ortega telah berlangsung dan tetap berlanjut.

Selain demonstrasi, pemogokan massal juga terjadi seperti pada Jumat lalu saat para pemilik usaha menutup bisnis mereka dan menuruti seruan dari kelompok-kelompok sipil anti pemerintah.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini