Operasi dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Pasukan Khusus, yang diperkirakan Alex terdiri sekitar 80 anggota. Tim itu memberi masukan konten apa yang akan dibahas hingga tagar.
Alex menjelaskan, foto yang digunakan untuk membuat akun palsu diambil secara sembarangan.
“Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim (tanpa foto) sehingga mereka meminta kami untuk mengisi foto profil, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp,” kata Alex.
“Mereka juga meninta kami agar menggunakan (foto) akun wanita cantik untuk menarik perhatian. Banyak akun yang seperti itu. "
Bahkan untuk di Facebook ada beberapa akun yang menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal.

Pasukan khusus Alex bekerja melalui ruangan-ruangan yang tersedia dalam rumah mewah di Menteng.
“Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi, ” kata Alex, yang mengatakan ia memilih kamar yang positif.
Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, sering setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas mereka di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna nyata dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.
Pekerjaan Alex dan timnya juga menangkis serangan dari kubu sebelah yang gencar menyerukan agar Ahok di penjara karena kasus penistaan agama.
Pradipa Rasidi, yang pada Pilkada DKI bekerja di lembaga traspransi internasional di Indonesia, memperhatikan fenomena buzzer ini.
"Pada saat pertama, mereka tampak normal, tetapi kemudian mereka kebanyakan hanya me-twit tentang politik," katanya.