Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pengakuan Tim Medsos Ahok: Akun Palsu, Perang, Jijik hingga Bekerja di Rumah Mewah

Rachmat Fahzry , Jurnalis-Selasa, 24 Juli 2018 |07:41 WIB
Pengakuan Tim Medsos Ahok: Akun Palsu, Perang, Jijik hingga Bekerja di Rumah Mewah
Ilustrasi Foto/Shutterstock
A
A
A

Operasi dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Pasukan Khusus, yang diperkirakan Alex terdiri sekitar 80 anggota. Tim itu memberi masukan konten apa yang akan dibahas hingga tagar.

Alex menjelaskan, foto yang digunakan untuk membuat akun palsu diambil secara sembarangan.

“Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim (tanpa foto) sehingga mereka meminta kami untuk mengisi foto profil, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan gambar dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp,” kata Alex.

“Mereka juga meninta kami agar menggunakan (foto) akun wanita cantik untuk menarik perhatian. Banyak akun yang seperti itu. "

Bahkan untuk di Facebook ada beberapa akun yang menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal.

Foto/Antara

Pasukan khusus Alex bekerja melalui ruangan-ruangan yang tersedia dalam rumah mewah di Menteng.

“Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang oposisi, ” kata Alex, yang mengatakan ia memilih kamar yang positif.

Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren hashtag mereka, sering setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas mereka di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna nyata dan media Indonesia, yang sering mengacu pada hashtag yang sedang tren sebagai barometer suasana nasional.

Pekerjaan Alex dan timnya juga menangkis serangan dari kubu sebelah yang gencar menyerukan agar Ahok di penjara karena kasus penistaan agama.

Pradipa Rasidi, yang pada Pilkada DKI bekerja di lembaga traspransi internasional di Indonesia, memperhatikan fenomena buzzer ini.

"Pada saat pertama, mereka tampak normal, tetapi kemudian mereka kebanyakan hanya me-twit tentang politik," katanya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement