Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pengakuan Tim Medsos Ahok: Akun Palsu, Perang, Jijik hingga Bekerja di Rumah Mewah

Rachmat Fahzry , Jurnalis-Selasa, 24 Juli 2018 |07:41 WIB
Pengakuan Tim Medsos Ahok: Akun Palsu, Perang, Jijik hingga Bekerja di Rumah Mewah
Ilustrasi Foto/Shutterstock
A
A
A

Rasidi mewawancarai dua buzzer Ahok yang berbeda, yang menggunakan akun palsu dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan oleh Alex. Keduanya menolak berbicara dengan Guardian.

Pakar strategi media sosial yang bekerja di salah satu kampanye melawan Ahok mengatakan bahwa buzzer adalah industri besar.

“Beberapa orang dengan akun berpengaruh dibayar sekitar Rp20 juta hanya untuk satu twit. Atau jika Anda ingin mendapatkan topik yang sedang tren selama beberapa jam, harganya antara Rp1-4 juta rupiah, ” kata Andi, yang hanya ingin ditulis nama depannya.

Berdasarkan penelitian tentang industri buzzer di Indonesia, peneliti dari Pusat Penelitian Inovasi dan Kebijakan (CIPG) mengatakan, semua kandidat dalam pemilihan Jakarta 2017 menggunakan tim buzzer—dan setidaknya satu dari lawan Ahok menciptakan "ratusan bot" yang saling terkait agar untuk terhubung ke dalam sebuah portal berita yang mendukung paslin tertentu.

Seorang juru bicara dari Twitter menolak memberikan data soal berapa banyak akun palsu Twitter di Indonesia yang telah diidentifikasi atau dihapus dari platformnya pada tahun lalu. Perusahaan itu mengatakan telah "mengembangkan teknik baru dan mesin eksklusif untuk mengidentifikasi konten berbahaya".

Ahok kalah dalam Pilkada, dan berakhir di penjara. Alex mengatakan dia tidak dapat memastikan seberapa efektif timnya.

Foto/Antara

Sementara Ulin Yusron, juru bicara tim kampanye Ahok menolak mengomentari tuduhan tertentu tetapi mengatakan kampanye melalui buzzer.

"Penggunaan fitnah, kebencian dan berita palsu sangat besar," katanya. “Secara alami, tim membentengi diri dengan pasukan pendukung, termasuk di media sosial. Itu bukan sesuatu yang baru dalam politik. ”

Peneliti Rasidi mengatakan tim buzzer beroperasi dengan cara yang sama seperti gosip.

“Ketika semua orang berbicara tentang hal yang sama, Anda mungkin berpikir bahwa mungkin itu benar, mungkin ada beberapa manfaatnya. Di situlah letak dampaknya. ”

(Rachmat Fahzry)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement