Share

Korsel Kirim Kapal Perang ke Libya untuk Bebaskan Warganya yang Diculik

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 02 Agustus 2018 14:52 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 02 18 1930830 korsel-kirim-kapal-perang-ke-libya-untuk-bebaskan-warganya-yang-diculik-DCqosIaeNO.jpg Foto: AFP.

SEOUL โ€“ Korea Selatan (Korsel) mengirimkan kapal perangnya ke Libya untuk memamerkan kekuatan militernya dalam upaya membebaskan seorang warga negara Korsel yang diculik bersama tiga warga negara Filipina di negara Afrika Utara itu. Kapal perusak Munmu The Great yang ambil bagian dalam operasi anti bajak laut di Teluk Aden dilaporkan telah bertolak menuju Libya.

โ€œSelain melaksanakan tugas melindungi kapal komersial, kapal perusak itu juga mempersiapkan semua kemungkinan termasuk kebutuhan akan dukungan militer," demikian disampaikan juru Bicara kementerian pertahanan Korsel sebagaimana dilansir AFP, Kamis (2/8/2018).

Ketiga warga Filipina dan seorang warga Korsel itu diculik dalam sebuah serangan di lokasi proyek air di Libya pada 6 Juli lalu. Seoul telah memastikan keselamatan mereka melalui sebuah video yang dibagikan kelompok intelijen SITE di media sosial pekan ini.

Video tersebut memperlihatkan keempat tahanan berbicara kepada kamera dalam bahasa Inggris. Seorang penjaga bersenjata terlihat berdiri di belakang mereka, namun pihak berwenang tidak dapat mengidentifikasi penyandera tersebut. Sejauh ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggungjawab atas penculikan ini.

"Kedutaan Filipina di Tripoli telah mengonfirmasi bahwa tiga orang dalam video itu adalah tiga teknisi Filipina yang (diculik) oleh kelompok bersenjata di Libya bulan lalu," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Filipina, Elmer Cato.

Sementara Juru Bicara Kantor Kepresidenan Korsel, Kim Eui-kyeom mengatakan, pemerintah melakukan semua upaya dan menggunakan semua sumber daya untuk membebaskan warganya.

"Pemerintah telah mempertahankan sistem kerja sama yang erat dengan pemerintah Libya dan sekutu lainnya, seperti Filipina dan Amerika Serikat, sejak insiden terjadi untuk keselamatan dan pembebasannya," jelas Kim.

Sejak mantan diktator Libya Muammar Gaddafi digulingkan dari kekuasaan dan dibunuh pada 2011, pekerja asing dan misi diplomatik sering menjadi sasaran milisi atau ekstremis seperti kelompok ISIS.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini