nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jakarta Utara 'Tenggelam' 2050: Gedung Amblas, Tanggul Bobol dan...

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 13 Agustus 2018 09:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 13 338 1935668 jakarta-utara-tenggelam-2050-gedung-amblas-tanggul-bobol-dan-SR0HtWrrSX.jpg (Foto: BBC Indonesia)

JAKARTA Utara diprediksi oleh para peneliti akan 'tenggelam' pada 2050. Selama enam bulan terakhir BBC News Indonesia melakukan investigasi terkait penurunan permukaan tanah di Jakarta. Kami menemukan bahwa potensi tenggelamnya Jakarta bukanlah omong kosong belaka.

Berdasarkan riset tim peneliti geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), di Jakarta Utara setiap tahunnya telah terjadi penurunan permukaan tanah dengan kedalaman mencapai 25cm.

(Baca juga: Penyebab Jakarta Utara 'Tenggelam' 2050)

"Ini adalah salah satu penurunan tanah terbesar di dunia, karena kita bayangkan dalam 10 tahun penurunannya mencapai 2,5 meter," kata Heri Andreas, salah satu doktor di bidang geodesi ITB yang terlibat dalam penelitian ini. Heri menekankan bahwa peluang Jakarta untuk tenggelam, tidak mengada-ada. Ada data yang berbicara.

Gedung amblas, tanggul bobol, banjir

Penghentian eksploitasi air tanah, menurut sang doktor, harus segera dilakukan. Pasalnya gejala penurunan tanah semakin memburuk dan tidak lagi sulit dicari, khususnya di Jakarta Utara.

Di Muara Baru, sebuah gedung dua lantai yang berdiri sejak tahun 1970an, hampir menjadi gedung satu lantai. Sekitar tiga perempat lantai dasar gedung telah terbenam masuk ke tanah dan digenangi air.

Foto: BBC Indonesia

Dampak juga dirasakan nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Mahardi, yang telah melaut dari pelabuhan itu sejak 14 tahun lalu, menuturkan bagaimana tanggul yang dibangun dengan tinggi sekitar satu meter, tidak mampu lagi menahan air laut ketika pasang terjadi.

"Banjir rob di sini semakin tahun semakin tinggi airnya. Ini sampai ditanggul begini. Dulu rata sama tanah, lalu ditanggul. Hampir tiap tahun naik sekitar lima senti banjir robnya. Terakhir itu sampai kerendam melewati tanggul setinggi 10 senti," kata Mahardi dengan suara bersemangat.

Tidak jauh dari sana, lantai sebuah pasar ikan tampak bergelombang. Penurunan tanah membuat amblasan dan celah menganga setinggi 20cm, antara tanah dan dasar bangunan.

"Kalau di sini membahayakan, apalagi ketika orang ramai. Jalan bergelombang begini orang bisa terpeleset, jatuh. Awalnya tidak terlalu parah, tetapi dari tahun ke tahun tanahnya semakin turun," ungkap Ridwan, warga Muara Baru yang kerap berbelanja di pasar ikan itu.

Dan tidak hanya bangunan terperosok, tanah amblas, banjir rob, dan tenggelamnya Jakarta yang akan terjadi. Profesor Heri menekankan, jika penurunan permukaan tanah tidak dihentikan, banjir di Ibu Kota, termasuk di Jakarta Pusat, daerah yang sebenarnya lebih jauh dari tepi laut, akan semakin rutin terjadi.

Foto: BBC Indonesia

"Hubungan antara penurunan tanah dan banjir itu sangat kuat. Di Jakarta, air juga bisa datang dari daerah Bogor, atau hujan. Karena tanah terus turun dan air laut lebih tinggi dari permukaan tanah, maka air dari Bogor atau air hujan, tidak bisa langsung ke laut. Otomatis dia membanjiri daerah-daerah yang mengalami penurunan tanah itu, termasuk yang penurunannya kecil." kata dia.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini