nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengapa Sejumlah Pria Papua Nugini Menyayat Kulit Agar Mirip Buaya?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2018 16:36 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 08 30 18 1943675 mengapa-sejumlah-pria-papua-nugini-menyayat-kulit-agar-mirip-buaya-MvkAeOcQnx.jpg Foto: BBC.

DI Papua Nugini, di bagian timur pulau kedua terbesar dunia, 80 persen penduduknya tinggal di pedesaan - kebanyakan di daerah paling terpencil yang nyaris tidak berhubungan dengan dunia luar sama sekali.

Mark Stratton menemukan sejumlah ritual tradisional masih dijalankan.

Cahaya yang menembus atap jerami usang rumah roh pria di desa Parambei, memperlihatkan bekas luka di dada beberapa pria.

Rumah roh atau Haus Tambaran di sepanjang sungai Sepik di Papua Nugini utara tersebut adalah pusat dari sistem keyakinan kedaerahan yang mengacu kepada roh yang muncul dalam bentuk binatang.

Rumah-rumah ini dihiasi lukisan dan ukiran berbagai mahluk, mulai dari babi, kasuari sampai ke ular dan elang. Tetapi buaya dianggap yang benar-benar mewakili kekuatan animisme di sepanjang sungai Sepik.

Pada salah satu upacara inisiasi paling ekstrem dunia, punggung, bahu dan bagian atas perut pria Sepik disayat silet sehingga meninggalkan bekas luka panjang yang menonjol mirip kulit buaya.

"Anak laki-laki dibawa ke rumah roh oleh paman mereka untuk disayat. Diperlukan waktu satu sampai dua jam," kata petinggi desa Parambei, Aaron Malingi. "Bertahun-tahun lalu penyayatan biasanya menggunakan bambu yang ditajamkan".

Rumah roh Kaminimbit.

Saat melihat tubuh berparut luka pada para pria tersebut, saya tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dirasakan.

"Sejumlah anak laki-laki pingsan karena kesakitan," kata Malingi. "Pria yang lebih tua meniup suling untuk menenangkan mereka dan menutupi luka dengan minyak pohon dan lumpur sungai putih untuk mencegah infeksi."

Dia menceritakan penyayatan ini merupakan simbol pembersihan darah ibu dan langkah maju menjadi dewasa, lewat metafora pemotongan tali celemek.

Selain penyayatan, para anak laki-laki kemungkinan akan hidup di dalam rumah roh selama beberapa bulan untuk mempelajari keterampilan kehidupan dari pria yang sudah lulus inisiasi.

"Mereka mendapatkan pengetahuan tentang roh desa, cara menangkap ikan, mengukir dan bagaimana memelihara istri dan keluarga," kata Malingi.

Saya menanyakan mengapa buaya menjadi tokoh yang penting dalam penyembahan roh di Sepik.

"Buaya adalah simbol kekuasaan," kata Malingi. "Kami takut terhadap mereka, tetapi juga mendapatkan energi dari kekuasaan itu."

Dia mengatakan kepada saya bahwa penciptaan sebuah dongeng setempat mengisyaratkan orang Sepik berasal dari buaya dan muncul dari sungai saat manusia mulai berjalan di darat.

Dalam perjalanan empat hari saya menyusuri Sepik dengan menggunakan perahu, saya menemukan bahwa kebiasaan pengorbanan dan kepercayaan terhadap buaya tetap kuat di daerah Sepik tengah, terutama di antara penutur bahasa Iatmul, satu dari 832 kelompok bahasa Papua Nugini.

Menyayat kulit seperti ini menghilang di sejumlah masyarakat sungai.

Di Kaminimbit, yang dapat dicapai dengan perjalanan berperahu selama setengah hari ke arah timur Parambei, saya diberitahu bahwa pengorbanan tidak lagi dilakukan di daerah itu karena pengaruh gereja Kristen. Setelah penjajah Jerman tiba di sekitar tahun 1885, daerah Sepik mulai menganut ajaran Kristen.

Sayatan kulit Womburn.

Meskipun demikian, mereka yang tak lagi melakukan ritual ini, Haus Tambaran tetap ada di samping gereja dan berfungsi juga sebagai tempat bergaul bagi para pria di mana mereka dapat bersantai di dalam.

Di desa Wombun, daerah rawa yang berpadu dengan danau dan anak sungai, para pria tua memperlihatkan bekas-bekas inisiasi.

Tetapi hal ini semakin menghilang. "Para pastor menentangnya," kata Simon Kemaken, seorang guru SD. "Kami masih mengadakan upacara setiap beberapa tahun untuk menyembah buaya, tetapi saat ini hanya sedikit anak laki-laki yang disayat."

Dia mengatakan biaya pengaturan ritual membuat keluarga anak tersebut menarik diri.

Tetapi di Parambei, di mana gereja Katolik juga ada, ritual ini tetap menjadi hal yang umum dilakukan di antara para pria. Saya kemudian berpikir mengapa pengaruh gereja tidak ada di sana.

"Roh tetap kuat di desa kami, tetapi para pastor telah mempengaruhi kebiasaan kami," kata Malingi kepada saya.

Ini adalah satu dari sejumlah peristiwa di mana pria Barat seperti saya sering kali berpikir, "Wah, mengapa kita tidak membiarkan saja kebiasaan orang-orang ini tetap hidup?" Kemudian Malingi mengungkapkan bahwa para misionaris juga mendesak para nenek moyang mereka agar juga berhenti melakukan ritual ini.

Dia memperlihatkan ikatan tambang pada salah satu rumah roh dimana masing-masing simpul mewakili sebuah kepala. Dan dia menjelaskan kepala-kepala tersebut sudah tidak memiliki daging, yang telah dicampurkan dengan daging babi dan anjing untuk disantap anak-anak agar mereka menjadi kuat.

Saya membayangkan kebiasaan tersebut pasti sudah menghilang sejak lama, sehingga saya menjadi terkejut ketika dia menegaskan praktek tersebut sebenarnya baru berakhir pada sekitar tahun 1943.

Dia mengatakan ritual massal berikutnya di mana para anak pria desa akan menjadi bagian tradisi buaya akan dilakukan pada bulan November ini.

"Adalah penting bagi kami untuk melanjutkan hal ini di Parambei," dia menegaskan. "Penyayatan buaya membuat kami memiliki tujuan. Setelah merasakan rasa sakit penyayatan, mereka siap menghadapi apapun dalam kehidupan."

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini