Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengapa Sejumlah Pria Papua Nugini Menyayat Kulit Agar Mirip Buaya?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 30 Agustus 2018 |16:36 WIB
Mengapa Sejumlah Pria Papua Nugini Menyayat Kulit Agar Mirip Buaya?
Foto: BBC.
A
A
A

Dalam perjalanan empat hari saya menyusuri Sepik dengan menggunakan perahu, saya menemukan bahwa kebiasaan pengorbanan dan kepercayaan terhadap buaya tetap kuat di daerah Sepik tengah, terutama di antara penutur bahasa Iatmul, satu dari 832 kelompok bahasa Papua Nugini.

Menyayat kulit seperti ini menghilang di sejumlah masyarakat sungai.

Di Kaminimbit, yang dapat dicapai dengan perjalanan berperahu selama setengah hari ke arah timur Parambei, saya diberitahu bahwa pengorbanan tidak lagi dilakukan di daerah itu karena pengaruh gereja Kristen. Setelah penjajah Jerman tiba di sekitar tahun 1885, daerah Sepik mulai menganut ajaran Kristen.

Sayatan kulit Womburn.

Meskipun demikian, mereka yang tak lagi melakukan ritual ini, Haus Tambaran tetap ada di samping gereja dan berfungsi juga sebagai tempat bergaul bagi para pria di mana mereka dapat bersantai di dalam.

Di desa Wombun, daerah rawa yang berpadu dengan danau dan anak sungai, para pria tua memperlihatkan bekas-bekas inisiasi.

Tetapi hal ini semakin menghilang. "Para pastor menentangnya," kata Simon Kemaken, seorang guru SD. "Kami masih mengadakan upacara setiap beberapa tahun untuk menyembah buaya, tetapi saat ini hanya sedikit anak laki-laki yang disayat."

Dia mengatakan biaya pengaturan ritual membuat keluarga anak tersebut menarik diri.

Tetapi di Parambei, di mana gereja Katolik juga ada, ritual ini tetap menjadi hal yang umum dilakukan di antara para pria. Saya kemudian berpikir mengapa pengaruh gereja tidak ada di sana.

"Roh tetap kuat di desa kami, tetapi para pastor telah mempengaruhi kebiasaan kami," kata Malingi kepada saya.

Ini adalah satu dari sejumlah peristiwa di mana pria Barat seperti saya sering kali berpikir, "Wah, mengapa kita tidak membiarkan saja kebiasaan orang-orang ini tetap hidup?" Kemudian Malingi mengungkapkan bahwa para misionaris juga mendesak para nenek moyang mereka agar juga berhenti melakukan ritual ini.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement