KENDARI - Lima gadis, mengenakan pakaian adat Kabupaten Muna, keluar rumah berajalan di atas kain putih menuju satu tempat, untuk menjalani prosesi adat, yang digelar di Lorong Dolog, Kecamatan Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Lima gadis ini, baru saja menjalani prosesi adat Kariya, dalam bahasa Muna, artinya Pingitan. Kariya, berasal dari kata 'Kari', berarti pembersihan.
Filosifi Kariya (pingitan), proses pembersihan diri seorang perempuan, menjelang dewasa atau masa peralihan sebelum berumah tangga.
Inilah alasan La Hole, SH, warga asal Kabupaten Muna, saat ini berdomisili di Lorong Dolog, Kota Kendari, untuk menggelar Kariya bagi sejumlah anak gadisnya.
"Anak saya yang pertama yang rencana menikah, kemudian kebetulan mempunyai adik-adik yang sudah dewasa semua, dasar inilah sehingga saya berupaya sedimikian rupa, supaya saya melakukan kegiatan pingitan ini, yang merupakan adat (Muna) masih betul-betul dipegang teguh atau yang sedang berlangsung setiap remaja-remaja yang sudah dewasa," jelas La Hole.

Menurut La Hole, Kariya yang dijalani lima anak gadisnya beranjak dewasa ini, dipingit di satu ruangan dua hari, dua malam, tanpa penerang lampu, bahkan tanpa bantal dan selimut. Selama itu, para gadis yang dipingit, juga diberi petuah atau nasihat.