Selain mereka anti berpolitik, enggan mengikuti kegiatan posyandu. "Setiap kali ada pemilu dari mulai Pilpres, Pilgub, Pilbup, Pileg hingga Pilkades harus diajak oleh petugas," jelas Koidin.

Setelah datang di TPS dan masuk ke kobong suara, mereka hanya membuka kertas suara tanpa mencoblosnya. Salah satu keturunan Ehen bernama Sawidin, (66) mengatakan, julukan faham Ehen datang dari luar kampung yang menilai aneh terhadap keberadaan kelompoknya.
"Orang di luar menyebut kami balad Ehen dan stigmanya dinilai negatif," kata Sawidin.
Sawidin menjelaskan, sekarang pola pikir keturunan dan lingkungan balad Ehen sudah mulai berubah dan menerima modernisasi.
"Namun masalah sikap anti terhadap politik tetap dipertahankan," tambahnya.