Sawidin mengaku, setiap kali ada pemilu, balad Ehen datang ke TPS dan masuk ke kobong suara, namun tidak melakukan pencoblosan.
"Alasan kami tidak melakukan pencoblosan lantaran takut diadu domba dan masalah mencoblos atau tidak mencoblos itu adalah hak kami," papar Sawidin.
Sikap anti politik kami semula pada tahun 1965, saat kelompok Ehen dicatut sebagai anggota PKI. "Padahal kami waktu itu bukan anggota PKI, dari situ kami kapok setiap ada pemilihan dan memilih bersikap netral," jelasnya.
Sawidin memaparkan, Ehen sebetulnya bukan ajaran, namun pola pikir femahaman. "Dulu ada Eyang Musa yang pulang naik haji dan membawa buku dari Makkah," paparnya.
Buku itu disebut tareh alam, yang menjelaskan tentang kehidupan dan kejujuran. "Karena dinilai buku itu menyesatkan oleh pemerintah akhirnya dirampas," jelasnya.
(Khafid Mardiyansyah)