nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bangunan Sekolah Mirip "Kandang Hewan" Itu Bernama SMK Putra Nusantara 4

Demon Fajri, Jurnalis · Kamis 22 November 2018 08:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 21 340 1980934 bangunan-sekolah-mirip-kandang-hewan-itu-bernama-smk-putra-nusantara-4-vVr2ktZqGV.jpg Murid SMK Putra Nusantara 4 tengah melakukan kegiatan belajar mengajar meski di tengah keterbatasan (Foto: Demon/Okezone)

Tamat SMP Siswa Pilih Menikah

Pembangunan SMK Putra Nusantara 4, tidak terlepas dari peran serta keluarga dan masyarakat setempat akan pentingnya pendidikan anak di satuan pendidikan. Sebab, sebelum berdirinya sekolah tersebut siswa desa setempat dan sekitarnya usai tamat dari jenjang SMP menjadi putus sekolah. Bahkan memilih menjadi petani dan pekebun.

Bahkan, pada tahun 2015 atau setahun sebelum berdirinya sekolah tersebut siswa yang tamat dari SMP memilih untuk menikah atau pernikahan dini. Kondisi itu tidak terlepas dari mata pencarian orangtua mereka yang serba keterbatasan. Sehingga memilih untuk menikahkan anak mereka pada usai dini.

Kondisi tersebut berubah setelah adanya inisiatif dari pemuda desa setempat pada tahun 2016. Senin, 1 Februari 2016, persisnya. Pemuda desa itu menginisiasi untuk mendirikan dan membangun sekolah setara SMA. Hal tersebut berangkat dari pelajar SMP yang tamat tidak kembali melanjutkan ke jenjang SMA dan memilih menikah dan menjadi petani dan pekebun.

Sebelum bangunan sekolah darurat berdiri, siswa kelas X menumpang di salah satu ruangan rumah pribadi, Kepala Desa (kades) Kelindang Atas Kecamatan Merigi Kelindang Kabupaten Bengkulu Tengah, M Jalalludin (58). Lamanya, sekira 3 hingga 5 bulan, kira-kira. Seluruh siswa tersebut belajar dengan meubler secukup dan seadanya, kala itu.

Berselang beberapa bulan kemudian, tujuh pemuda yang menginisiasi pembangunan sekolah tersebut mendapatkan bantuan dari salah satu yayasan untuk mendirikan bangunan sekolah yang hingga saat ini berdiri. Di mana bahan baku bangunan sekolah pun berasal dari sumbangsi dan peran serta masyarakat sekitar dan yayasan.

"Sebelum ada SMK banyak siswa/i yang sudah tamat SMP, putus sekolah. Ada juga yang memilih menikah. Karena itulah kami secara bersama mendirikan sekolah di sini secara bersama," jelas Mardiana.

Siswa yang tidak melanjutkan, sampai Mardiana, terbentur dengan biaya. Sebab sekolah setara SMA dari desa-nya tersebut berjarak sekira 18 kilometer (km). Sehingga siswa yang telah tamat SMP memilih untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.

"Jika ada biaya siswa/i yang tamat SMP sekolah ke luar desa. Ada juga yang ke Kota Bengkulu. Kebanyakan siswa tidak melanjutkan sekolah atau putus sekolah. Jika sekolah ke luar maka biaya yang dikeluarkan cukup besar, makanya mereka memilih menjadi petani atau pekebun dan menikah," sampai Mardiana.

Ditambahkan, Kepala Desa Kelindang Atas Kecamatan Merigi Kelindang Kabupaten Bengkulu Tengah, M Jalalludin (58), jika sekolah tersebut masih membutuhkan perhatian. Sebab, sejak berdirinya bangunan sekolah tersebut sama sekali belum adanya perhatian. Pembangunan sekolah tersebut pun berawal dari jarak tempuh sekolah setara SMA yang jauh dari desa. Sehingga siswa yang usai tamat SMP tidak melanjutkan sekolah kembali ke jenjang SMA.

Sebelum sekolah berdiri siswa, jelas Jalalludin, sempat menumpang di rumah pribadinya. Kondisi itu lantaran bangunan sekolah sama sekali tidak ada. Lamanya, tidak kurang dari lima bulan. Hal tersebut salah satu bentuk perhatian terhadap satuan pendidikan untuk anak warga di desa yang ia pimpin tersebut.

"Sempat menumpang di ruang atas rumah saya. Sebelum berdirinya sekolah anak yang baru tamat SMP memilih menikah. Tapi, sejak ada SMK mereka tidak ada lagi yang menikah dan memilih melanjutkan sekolah. Sekolah di sana (SMK) itu gratis," kata Jalalludin, ketika ditemui Okezone, Senin 19 November 2018.

Jalalludin berharap, adanya perhatian dari pemerintah daerah untuk melengkapi kekurangan-kekurangan di sekolah tersebut. Sebab, kondisi sekolah tersebut masih jauh dari sempurna. Mulai dari kondisi bangunan sekolah, meubeler hingga guru yang mengajar di sekolah tersebut.

"Kami berharap sekolah itu ada perhatian dari pemerintah," harap Jalalludin.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Septi Yuslina mengatakan, dari pihak yayasan dapat mengusulkan bantuan kepada pemerintah daerah ataupun pusat. Di mana nantinya, sekolah tersebut akan mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat atau daerah berupa bantuan keuangan atau hibah. Bahkan, hibah dalam bentuk barang melalui dinas pendidikan.

"Dari DPRD bisa saja mengusulkan sesuai ajuan dari yayasan sekolah tersebut. Apakah hibah bantuan keuangan atau hibah barang melalui dinas pendidikan," sampai Septi.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini