nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Arief Yahya Raih Penghargaan The Best Marketing Minister Of Tourism Of ASEAN

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Jum'at 07 Desember 2018 13:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 07 1 1988086 arief-yahya-raih-penghargaan-the-best-marketing-minister-of-tourism-of-asean-J4lTsbqytX.jpeg Menpar Arief Yahya. Foto: Humas Kemenpar

JAKARTA - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya meraih penghargaan The Best Marketing Minister of Tourism Of ASEAN dalam acara Anugerah MarkPlus Marketeer of The Year (MoTY) 2018 pada Kamis (6/12). Hal itu membuatnya semakin percaya diri (pede) dalam mempromosikan pariwisata Indonesia.

"Sebuah kehormatan bagi saya, terima kasih, ini merupakan penghargaan bagi seluruh upaya dan dedikasi seluruh jajaran Kementerian Pariwisata. Sekarang kami makin pede membawa National Brand Wonderful Indonesia," ucap Arief.

Namun ia menilai bahwa apa yang didapat adalah juga berkat dukungan orang-orang sekitarnya, termasuk dukungan dari Presiden Joko Widodo di sektor pariwisata.

“Tak ada orang yang lebih besar dari organisasinya itu sendiri!. Penghargaan ini bukan hasil saya pribadi, penghargaan ini saya persembahkan untuk segenap jajaran Kementerian Pariwisata dan juga dukungan Bapak Presiden yang telah menetapkan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas, serta segenap kementerian teknis yang membantu. Terima kasih!” tutur Arief.

Arief sendiri telah mengubah instutusinya dari yang sebelumnya berupa kementerian yang penuh birokrasi, menjadi kementerian yang mirip korporasi. Kemenpar dipoles menjadi bertindak sebagai marketing lewat promosi dan pengembangan wisata.

"Saya terapkan WIN Way, Wonderful Indonedia Way, jurusnya 3S. Ini untuk membangun budaya kerja atau corporate culture Kemenpar, yakni Solid, Speed, Smart," ucap Arief.

Doktor jebolan Unpad Bandung itu memang punya skema kerja yang sistematis. Semua dia kerjakan secara simultan. Seperti halnya deregulasi yang menjadi perhatiannya. Arief Yahya mampu mendorong kebijakan Visa Free untuk 169 negara, dari sebelumnya hanya 15 negara ASEAN saja.

Deregulasi juga dilakukan di bidang yacht, perahu pesiar, dengan penghapusan CAIT. Dengan ini izin masuk yacht langsung terpangkas hanya dengan 3 jam, dari sebelumnya 3 minggu.

Begitu juga regulasi di kapal cruise dengan pencabutan sabotage. Regulasi ini memungkinkan sebuah kapal pesiar berbendera asing menaik-turunkan penumpang di 5 pelabuhan di Tanah Air.

Di bidang pemasaran, Arief Yahya sudah melakukan banyak terobosan sehingga branding Wonderful Indonesia menembus peringkat 47 dari sebelumnya not available (N/A). Branding Wonderful Indonesia sudah mengalahkan Malaysia (94) dan Thailand (83).

Bahkan Arief Yahya membawa Kemenpar terpilih sebagai The Best Ministry Of Tourism atau Best National Tourism Organization (NTO) di ajang TTG Travel Awards 2018 di Bangkok.

Di level dunia, UN-WTO, Indonesia memborong 3 awards langsung. Di Halal Tourism Abu Dhabi juga menggondol 3 penghargaan langsung.

Di bidang pengembangan destinasi dan industri, Menpar Arief Yahya juga menggenjot pengembangan 10 Bali Baru agar sejalan dengan Nawacita untuk pemerataan. Menpar pun mendorong digital destination serta nomadic tourism. Hasilnya kedua program tersebut booming.

Nomadic tourism mini digandrungi industri pariwisata. Peminatnya pun banyak, begitu juga digital destination. Menggandeng Generasi Pesona Indonesia (GenPI), destinasi ini menjadi salah satu kekuatan pariwisata Indonesia.

"Kita akan punya 10 Bali Baru agar pengembangan pariwisata terus berkembang, merata, sekaligus mengejar target 20 juta wisman ke Tanah Air. Dengan destinasi yang ada, tidak mungkin menembus jumlah target itu," kata Arief.

Soal destinasi, Arief Yahya menggunakan konsep 3A, membangun atraksi, akses. dan amenitas. Pola dan rumus-rumus yang dilakukan Arief itu terus disosialisasikan di daerah-daerah. Semakin banyak daerah yang minta agar kawasannya dibangun akses dan amenitas. Semua berlomba membangun kawasan ekonomi khusus (KEK) Pariwisata.

Pada 2016, devisa pariwisata mencapai US$ 13,5 miliar per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) sebesar US$ 15,9 miliar per tahun. Padahal pada 2015 lalu, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar.

Tahun 2017, sumbangan devisa dari sektor pariwisata melesat menjadi sekitar US$ 16,8 miliar. Angka ini diprediksi akan meningkat 20% menjadi sekitar US$ 20 miliar pada 2018.

"Kami akan terus mencari celah untuk menaikkan jumlah wisman di 5 prioritas pasar, yakni Singapore, Malaysia, China, Australia dan Jepang. Sehingga Pariwisata akan tumbuh menjadi kekuatan utama perekonomian Indonesia. Modal kita sudah kuat. Pariwisaata adalah DNA kita," kata Arief.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini