nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspadai Kerusuhan Terulang, Prancis Tutup Menara Eiffel Selama Akhir Pekan

Indi Safitri , Jurnalis · Jum'at 07 Desember 2018 13:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 07 18 1988087 waspadai-kerusuhan-terulang-prancis-tutup-menara-eiffel-selama-akhir-pekan-TrPizTqh0C.jpg Foto: Reuters.

PARIS - Prancis akan menutup Menara Eiffel dan lokasi-lokasi pariwisata lainnya di Paris dan mengerahkan lebih banyak lagi pasukan keamanan pada Sabtu, 8 Desember nanti untuk mencegah gelombang demonstrasi kekerasan lainnya di negara itu yang memprotes tingginya biaya hidup.

Diwartakan Reuters, Jumat (7/12/2018), dengan munculnya seruan dari demonstran “rompi kuning” untuk melakukan “Act IV” atau protes pada akhir pekan keempat, pihak berwenang telah mengambil sejumlah langkah antisipasi. Perdana Menteri Edouard Philippe mengatakan 89.000 polisi di seluruh negeri akan dikerahkan untuk menghindari adanya kekacauan seperti yang terjadi pada Sabtu lalu di seluruh Prancis.

BACA JUGA: Batalkan Kenaikan Pajak BBM, Prancis Antisipasi Kerusuhan Baru

Sekira 8.000 polisi akan ditempatkan di Paris, di mana para perusuh membakar mobil, menjarah toko-toko dari bulevard Champs Elysees yang terkenal, dan mencoret-coret Arc de Triomphe dengan grafiti yang ditujukan kepada Presiden Emmanuel Macron.

Pemerintah Prancis tampaknya siap menawarkan kelonggaran agar bisa mendapatkan kembali inisiatif setelah beberapa pekan kerusuhan sipil.

Philippe mengatakan kepada Senat bahwa dia terbuka dengan langkah-langkah baru dalam membantu pekerja dengan bayaran terendah, sementara Menteri Keuangan, Bruno Le Maire mengatakan dia siap untuk mempercepat pemotongan pajak untuk rumah tangga dan bahwa dia ingin bonus yang diberikan pada pekerja dibebaskan dari pajak.

“Saya siap untuk melihat semua langkah yang akan membantu menaikkan gaji mereka yang menerima upah minimum tanpa merusak daya saing dan bisnis kami secara berlebihan,” kata Philippe kepada majelis tinggi parlemen.

Kebijakan-kebijakan manis yang ditujukan untuk menenangkan kemarahan publik dimulai dengan dicabutnya rencana kenaikan pajak bahan bakar yang diumumkan oleh Philippe pada Rabu. Namun, lima hari setelah berlangsungnya kerusuhan terparah yang terjadi di Paris sejak 1968, tanda-tanda yang ada menunjukkan pemerintah telah gagal memadamkan kerusuhan

Terulangnya kekerasan serupa seperti kerusuhan di pusat Kota Paris pada Sabtu akan memberikan pukulan bagi perekonomian dan menimbulkan keraguan atas keberlangsungan pemerintahan Macron.

Philippe mengatakan akan melakukan semua bisa dilakukan demi menjaga ketertiban. Enam pertandingan sepakbola divisi pertama juga telah dibatalkan.

Pihak berwenang di Paris memerintahkan puluhan museum, situs wisata, toko-toko dan restoran untuk tutup pada Sabtu, 8 Desember nanti, termasuk Menara Eiffel dan Museum Louvre. Pejabat lokal di 15 wilayah di sekitar ibu kota juga diminta untuk memindahkan apa pun yang dapat digunakan sebagai proyektil di jalan.

“Kami menghadapi orang-orang yang tidak datang ke sini untuk protes tetapi untuk menghancurkan, dan kami ingin memiliki sarana untuk tidak memberi mereka kebebasan,” tutur Philippe pada program berita malam televisi TF1.

Selain jumlah polisi yang meningkat, 12 kendaraan lapis baja milik gendarmerie akan digunakan pertama kalinya di sebuah kota Prancis sejak 2005 ketika kerusuhan pecah di pinggiran ibukota.

Ada kekhawatiran tentang kelompok beraliran kanan, anarkis, dan anti-kapitalis seperti Blok Hitam, yang membonceng gerakan "rompi kuning". Pemerintah juga mempertimbangkan untuk menggunakan pasukan yang saat ini ditempatkan pada patroli anti-terorisme untuk melindungi bangunan-bangunan umum.

Kota-kota lain di seluruh negeri, termasuk Bordeaux, memerintahkan langkah-langkah pencegahan atas kekhawatiran bahwa para pengunjuk rasa dapat memilih untuk bersatu secara regional daripada menghadapi keamanan yang diperketat di Paris.

Di Facebook dan media sosial, pengunjuk rasa menyerukan “Act IV”. “Prancis sudah muak! Kami akan berada di sana dalam jumlah yang lebih besar, lebih kuat, berdiri untuk orang-orang Prancis. Bertemu di Paris pada 8 Desember, ” ujar tulisan spanduk di salah satu grup.

BACA JUGA: PM Prancis Janjikan Pengamanan Ketat dalam Aksi Protes pada Sabtu Besok

Demonstrasi rompi kuning yang dimulai pada pertengahan bulan lalu dengan cepat tumbuh menjadi pemberontakan yang luas dan terkadang dilakukan dengan kekerasan, melawan Macron, tanpa memiliki tokoh pemimpin formal.

Tuntutan mereka beragam, termasuk pajak yang lebih rendah, gaji yang lebih tinggi, biaya energi yang lebih murah, ketentuan pensiun yang lebih baik dan bahkan pengunduran diri Macron.

Kerusuhan telah mengungkap kebencian yang mendalam di antara penduduk yang tidak tinggal di kota yang melihat bahwa Macron benar-benar tidak peduli dengan golongan pekerja kerah biru dan pekerja kelas menengah. Demonstrasi itu juga semakin menenggelamkan popularitas Macron yang kini hanya berada di angka 20 persen. Mereka melihat bahwa presiden dan mantan bankir berusia 40 tahun itu dengan bisnis yang besar.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini