nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peringatan Kedatangan Atisa Dipamkara, Umat Buddha Jambi Gelar Upacara Agung

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Sabtu 15 Desember 2018 09:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 15 1 1991624 peringatan-kedatangan-atisa-dipamkara-umat-buddha-jambi-gelar-upacara-agung-MI6Dy52YVU.jpg Foto: True Buddha Indonesia

ATISA Dipamkara adalah seorang pelajar yang ingin selalu mendalami Boddichita. Atisa pada usia 30 tahun memutuskan untuk datang ke Indonesia karena pada waktu itu Sriwijaya merupakan pusat pembelajaran agama Buddha.

Ia mencari Guru Besar Darmakitri di Svarnadipa (Sumatera), tepatnya di Jambi, untuk belajar lebih jauh tentang Buddhisme. Selama 12 tahun (1013 – 1025) diajarkan Buddha Dharma di Muara Jambi oleh Guru Besar Dharmakitri dari Svarnadipa,

Lalu Atisa kembali ke India dan menjadi kepala vihara di sekolah terdahulunya yaitu Universitas Monastik Vikramasila. Ia lalu datang ke Tibet dan merangkum berbagai ajaran Buddha ke dalam sebuah karya yang dipelajari oleh banyak praktisi di seluruh dunia hingga saat ini.

Salah satunya adalah Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipa), sebuah naskah panduan singkat yang terdiri dari 68 bait. Karya ini memaparkan ajaran Buddha secara sistematis dan bertahap.

Dharma berupa tulisan serta buku-buku yang ditulisnya sangat berpengaruh terhadap penyebaran agama Buddha di Indonesia maupun di dunia. Atisa Dipamkara yang dikenal sebagai pemimpin agama Buddha dari Tibet memiliki hubungan yang sangat erat dengan Indonesia.

Hal ini terlihat dengan adanya garis spiritual geografis utara-selatan antara Stupa Borobudur di Indonesia dan Stupa Kumbum di Gyantse, Tibet. Atisa wafat di Nyetang pada 1054 di usia 72 tahun.

Memperingati ke seribu tahun kedatangan Atisa Dipamkara ke Indoneisa, umat Buddha Tantrayana Zen Fo Cong mengadakan Upacara Agung Homa Atisa 2018 pada 8 Desember 2018 yang dipimpin oleh Dharma Raja Lian Sheng di ICE - BSD.

Dharma Raja Lian Sheng merupakan pendiri True Buddha School atau Zhen Fo Zong dan mendapat panggilan sebagai Buddha hidup dikarenakan mempunyai rasa welas asih seperti seorang Buddha menolong seluruh insan.

Dharma Raja Lian Sheng adalah seorang biksu yang bernama awam Sheng-yan Lu, lahir pada 1945 di Kota Chia Yi, Taiwan. Ia merupakan lulusan Fakultas Geodesi, Institusi Teknologi Chung Cheng Taiwan.

Dalam Buddhisme Sutrayana, Dharma Raja Lian Sheng secara berurutan bersarana kepada Mahabhiksu Yin-shun, Bhiksu Le-guo dan Bhiksu Dao-an. Ia menerima Bodhisattva-sila di VIhara Bi-shan, Nantou Taiwan. Guru Pemberi Vinaya adalah Bhiksu Xian-dun, Bhiksu Hui-san dan Bhiksu Jue-guang. Guru ritualnya adalah Bhiksu Shan-ci dan Bhiksu Shang-lin.

Dalam Vajrayana, bersarana kepada Karmapa Ke 16, Rangjung Rigpe Dorje, dari Sekte Karma Kagyu . Kemudian dari Gelugpa adalah Acarya Tubten Dhargye . Dari Sakyapa adalah Acarya Sakya Zeng-kong ( Dezhung Rinpoche ) . Dari Nyingmapa adalah Bhiksu Liao-ming. Selain itu ia juga bersarana kepada Acarya Pu-fang dari Vihara Zong-chi.

Sejak 1982, Lian Sheng pindah dan menetap di Seattle Amerika, dan kemudian mulai memutar Dharmacakra Tantrayana untuk menuntun para insan, menyelaraskan Pintu Dharma Tantrayana yang mendalam dan langka supaya menjadi Pintu Dharma Anuttara yang mudah diterapkan, mudah dipelajari dan dipahami oleh para insan pada zaman sekarang ini.

Lian Sheng juga diketahui memaparkan dharma satya Buddha melalui karya tulis, lukisan dan Dharmadesana. Bentuk Boddhicita yang ia tuangkan adalah ke dalam bentuk penulisan buku yang mana saat ini telah masuk penulisan ke-270. Bahkan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Semua bukunya disimpan dalam American Library of Congress. Dunia penerbitan Jepang memujinya sebagai ‘Suciwan Tionghoa Masa Kini’, Dharma Raja Lian Sheng dijuluki juga sebagai yang paling utama dalam membabarkan Dharma melalui karya tulis.

Lebih lanjut Dharma Raja Lian Sheng juga menggunakan lukisan sebagai media pembabaran Dharma, sampai saat ini karya lukisnya telah terkumpul dalam 9 album katalog. Setiap hari Dharma Raja Lian Sheng membabarkan Dharma tanpa henti, mulai tahun 1990 sampai saat ini sudah tak terhingga banyaknya Dharmadesana yang telah diedarkan dalam bentuk buku, kaset rekaman, VCD dan DVD.

Selain itu, ia juga turut hadir dalam upacara-upacara Buddha serta turun langsung membantu umat yang membutuhkan. Welas asihnya yang telah menolong para insan mencapai pencerahan serta membebaskan dari penderitaan, dan juga menyampaikan pesan-pesan cinta kasih secara universal tanpa memandang suku dan agama.

Melalui tangan Lian Sheng, Yayasan True Buddha School atau Zhen Fo Zong berdiri dan hingga kini telah memiliki lebih dari 5 juta umat di seluruh dunia. Diantaranya adalah di Indonesia yang memiliki jumlah umat paling besar diantara negara lainya .Umat Tantrayana Zhen fo Zong bernaung dibawah 2 majelis: Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhen fo Zong Kasogatan Indonesia dan Majelis Agama Buddha Tantrayana Satya Buddha Indonesia (MadhaTantri).

Selanjutnya ada pula Yayasan True Buddha Indonesia (TBI) didirikan untuk membantu perkembangan Zen Fo Cong yang pesat di Indonesia. Visi dari TBI adalah berlandaskan pada ajaran, ikrar, serta praktik Bodhicitta dari Mulacarya Dharma Lian sheng.

Sedangkan Misi yang dimiliki TBI ialah bersama memajukan pendidikan di Indonesia, melatih dan menciptakan sumber daya manusia yang andal sesuai dengan prinsip Buddhadharma secara aktif menggerakkan publikasi, berperan serta dalam kegiatan sosial untuk menyejahterakan masyarakat, serta memberikan pelayanan Dharma secara luas sesuai dengan prinsip Catur-apramana-citta (maitri-karuna-mudita-upeksa).

Yayasan True Buddha Indonesia dan kedua majelis turut menyambut kedatangan Mahaguru Lian Sheng ke Indonesia dengan serangkaian acara keagamaan.

Serangkaian kegiatan keagamaan tersebut dinamakan "Tapak Tilas Sewu Tahun" yang diawali pada Agustus 2018 di Candi Muaro Jambi dengan tema Ikrar Boddhicitta, kemudian dilanjutkan pada Oktober 2018 di Candi Borobudur dengan tema Pengamalan Boddhicitta.

Pradaksina yaitu dilakukan perjalanan mengelililngi Candi Borobudur, berdoa untuk korban bencana alam yang terjadi di Palu dan Lombok serta kesejahteraan negara Republik Indonesia. Lalu puncaknya akan diadakan pada 8 Desember 2018 nanti di Jakarta, berupa Upacara Agung Homa Atisa 2018 yang akan dipimpin langsung oleh Dharma Raja Lian Sheng.

Sementara itu, rangkaian Upacara Agung Homa Atisa 2018 di antaranya:

1. Berdoa bersama yang dipimpin oleh Mahaguru agar Indonesia menjadi sejahtera, aman sentosa, dan dapat maju berkembang dengan baik.

2. Memberikan semangat dan pemberkatan kepada seluruh umat Tantrayana Zen fo Cong (True Buddha School) di Indonesia agar dapat lebih maju dalam spiritual dan kebijaksanaan.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini