Sementara itu, warga Anyer Ade (42) mengaku akhir akhir ini dia kerap mencium bau belerang saat berada di luar rumah. Bau diduga berasal dari gunung krakatau yang tertiup angin hingga daratan. "Kemarin nyium belerang, angin membawa bau belerang dari Krakatau mungkin," katanya.
Meskipun begitu, akhir-akhir ini masyarakat di pesisir pantai tak lagi was-was sejak suara dentuman Gunung Anak Krakatau tidak terdengar lagi. "Dari musibah tsunami, seminggu itu dentuman kayak ombak kedenger jelas. Alhamdulilah sekarang sudah berhenti," ujarnya.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Semburkan Abu Setinggi 1.500 Meter
Berdasarkan data, aktivitas gempa Gunung Anak Krakatau sebanyak 37 letusan dengan amplitudo : 15-35 mm, dan durasi : 29-187 detik. Serta, tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 1-17 mm (dominan 8 mm).
Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dalam radius 5 km dari kawah.
(Edi Hidayat)