KERIUHAN media sosial terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif, Nurhadi-Aldo, dianggap sindiran keras untuk para kontestan pemilihan presiden yang tak kunjung menawarkan program substansial bagi pemilih. Sejak tahapan kampanye pilpres dimulai pada September 2018, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai hanya membicarakan isu identitas hingga adu pencitraan.
Hurriyah, dosen ilmu politik di Universitas Indonesia, menyebut akun media sosial Nurhadi-Aldo menjadi ruang ekspresi kelompok yang apatis dan skeptis terhadap Pilpres 2019. "Fenomena ini adalah respons terhadap jargon dan program yang disampaikan kedua kubu," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin 7 Januari 2019.
"Ini menjadi peringatan bahwa publik muak pada konstetasi politik yang semakin tidak sehat. Sudah dekat pemilu, kedua kubu bahkan belum membicarakan program yang akan mereka tawarkan," kata Hurriyah.
Nurhadi-Aldo adalah pasangan capres-cawapres fiktif yang muncul dalam tiga platform media sosial, yaitu Instagram, Twitter, dan Facebook. Penggagasnya adalah delapan pemuda usia dari 17–23 tahun nonpartisan yang tinggal di beberapa kota di Indonesia.
(Baca juga: Nurhadi-Aldo: Dari Tukang Pijat Sampai Jadi Capres-Cawapres Guyonan)
Sejak diluncurkan pada 24 Desember 2018 di Instagram, akun @nurhad_aldo telah memiliki 243 ribu pengikut. Jumlah itu memang jauh dibandingkan pengikut Instagram Jokowi (15,2 juta) dan Prabowo (2,4 juta).