JAKARTA – Nongkrong di tempat makan seperti angkringan menjadi salah salah kegiatan "rutin" yang dilakukan generasi milenial. Seperti Fauzan (20) yang berkumpul dengan kawan-kawannya di kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.
Perbincangan pun terjadi di antara mereka, hingga mengundang canda dan tawa. Namun, Fauzan terlihat banyak menunduk sambil memainkan smartphone-nya dan hanya sesekali menimpali perbincangan.
Dia pun mengaku bahwa rumah dan lingkungan main menjadi tempat untuk menghabiskan waktu bersama smartphone. Sebab, menurutnya, semua informasi di media sosial lebih menarik daripada dunia nyata. Selain melihat media sosial, dia juga menghabiskan waktu dengan bermain game, telepon, rapat online, hingga mengerjakan tugas.
Meski begitu, dia menyadari bahwa kebiasaan tersebut dapat mengurangi interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar. Namun, ia berpendapat saat ini sudah memasuki zaman di mana teknologi menguasai otak manusia sehingga menjadi wajar jika lebih banyak orang yang berkutat dengan smartphone.
"Sadar sih, ya cuma gimana, emang udah zamannya teknologi bisa menguasai otak manusia," katanya kepada Okezone, Kamis 3 Januari 2019.

Kebiasaan serupa juga dilakukan Atha (20), seorang mahasiswa yang sedang menjalani praktik industri di salah satu media di Indonesia. Saat langit sudah gelap, ia baru saja keluar kantor. Dia pun menyusuri jalan menuju stasiun. Sambil menunggu kereta datang, dia terus memainkan smartphone hingga menghiraukan orang-orang di sekitarnya.
Setengah jam menunggu, kereta datang. Atha memasuki kereta tujuan Cikarang. Kondisi dalam kereta saat itu tampak sesak, namun dia tetap berkutat bersama smartphone dengan nonton YouTube.
“Biasanya saya itu (dengan smartphone) dengerin musik, baca-baca informasi di internet, scroll-scroll sosmed, dan bales-balesin chat dari temen-temen. Saya kuat main hape mungkin 16/24 jam ya. Itu dilakuin di hal dan sikon tertentu, seperti rumah, KRL, dan tempat umum lainnya,” tuturnya.
Dia mengatakan bahwa pernah mencoba tidak bermain smartphone di tempat umum dan berusaha mengajak interaksi orang lain di sekitarnya. Namun, orang tersebut malah buat dia kapok untuk ngobrol.
"Karena pernah engga main hp di KRL, terus saya ngajak ngobrol orang eh malah dicuekin, terus jawabnya ketus dan saya dianggurin," ceritanya.

Fauzan dan Atha hanya dua contoh dari sekian banyak orang yang sibuk dengan smartphone. Hal itu pun dapat dibilang sudah mendarah daging dan lazim terlihat di tempat umum, seperti halte, stasiun, tempat makan, maupun tempat khusus, seperti rumah.
Terlebih masyarakat akan menjajaki fase revolusi industri 4.0. Di mana semua sudah serba canggih dan cepat. Salah satunya dengan mulai munculnya teknologi-teknologi yang semula tidak bisa dilakukan manusia.
Selain itu, laporan e-Marketer pun telah mencatat, pengguna aktif smartphone di Indonesia akan tumbuh dari 55 juta orang pada tahun 2015, menjadi 100 juta orang tahun 2018. Dengan jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika.
Alhasil, masyarakat tidak bisa menghindari fenomena "generasi nunduk", seperti Fauzan dan Atha.
Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Sosiologi Universitas Nasional (Unas) Jakarta Sigit Rochadi berpendapat bahwa smartphone saat ini menjadi alat yang sangat penting bagi seseorang. hal itu dikarenakan, smartphone telah menyediakan berbagai aplikasi yang memudahkan penggunanya untuk mendapatkan informasi ataupun melakukan pekerjaan.
"Hape sekarang menjadi alat yang paling penting bagi seseorang. Hape cerdas telah mengintegrasikan semua teknologi, seperti kalkulator, video, kamera, TV, dan lain-lain. Bahkan, buku dan majalah. Info sangat cepat via hp dan mengalahkan koran dan TV. Berbagai info ada di hp sehingga orang ingin selalu update info apapun via hape," jelasnya.